Memaparkan catatan dengan label Sudut Pandang. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sudut Pandang. Papar semua catatan

Isnin, Disember 28, 2015

SAKIT

Adab Ketika Sakit

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat hikmah dan keadilan-Nya menimpakan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada khususnya, dan seluruh makhluk pada umumnya.

Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya berbagai jenis penyakit di zaman ini, karena kemaksiatan dan kedurhakaan umat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Islam adalah agama yang sempurna, yang menuntut seorang muslim agar tetap menjaga keimanannya dan status dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang muslim akan memandang berbagai penyakit itu sebagai:

1. Ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini: “Kami menguji kalian, terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Maka Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (terhadap nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala), siapa yang sabar dan siapa yang putus asa (dari rahmat-Nya). Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: ‘Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, dengan kesehatan dan sakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan kemaksiatan, dengan petunjuk dan kesesatan; kemudian Kami akan membalas amalan-amalan kalian’.”

Ujian dan cobaan akan datang silih berganti hingga datangnya kematian.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Al-Baqarah: 214)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “(Ujian yang akan datang adalah) berbagai penyakit, sakit, musibah, dan cobaan-cobaan lainnya.”

Bila demikian, maka sikap seorang muslim tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah senantiasa berusaha sabar, ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, terus-menerus memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tidak marah dan murka terhadap taqdir yang menimpa dirinya, tidak pula putus asa dari rahmat-Nya.

2. Penghapus dosa.

Seandainya setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan mesti dibalas tanpa ada maghfirah (ampunan)-Nya ataupun penghapus dosa yang lain, maka siapakah di antara kita yang selamat dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sehingga, termasuk hikmah dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia menjadikan berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa kita.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu:

a. mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).

b. lupa (akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari penjelasan ini, ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa musibah: beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan mendapatkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia marah dan tidak sabar atas taqdir tersebut.”

3. Kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak dilupakan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang terlupa darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Betapa banyak orang yang menyadari keberadaan nikmat kesehatan ini, setelah dia jatuh sakit. Sehingga musibah sakit ini menjadi peringatan yang berharga baginya. Setelah itu dia banyak bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Itulah golongan yang beruntung.

Adab-adab Syar’i ketika Sakit

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

“Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Diriwayatkan dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 1633)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Di antara bentuk pengobatan yang sunnah adalah:

a. Madu dan berbekam

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: شُرْبَةِ عَسَلٍ، وَشِرْطَةِ مُحَجِّمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى عَنِ الْكَيِّ –وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِي

“Obat itu ada pada tiga hal: minum madu, goresan bekam, dan kay1 dengan api, namun aku melarang kay.” (HR. Al-Bukhari) 1 Besi dibakar, lalu ditempelkan pada urat yang sakit.

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay.”

b. Al-Habbatus sauda` (jintan hitam)

Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَ السَّامَ

“Al-Habbatus Sauda` (jintan hitam) adalah obat untuk segala penyakit, kecuali kematian.” (HR. Ath-Thabarani. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu bahwa sanadnya hasan, dan hadits ini punya banyak syawahid/pendukung)

c. Kurma ‘ajwah

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ أَوَّلُ الْبُكْرَةِ عَلىَ رِيْقِ النَّفَسِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سِحْرٍ أَوْ سُمٍّ

“Pada kurma ‘ajwah ‘Aliyah yang dimakan pada awal pagi (sebelum makan yang lain) adalah obat bagi semua sihir atau racun.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Lihat Ash-Shahihah no. 2000)

d. Ruqyah

Yaitu membacakan surat atau ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan, kepada orang yang sakit. Bisa dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsirnya berkata: “Al-Qur`an itu mengandung syifa` (obat) dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak berlaku untuk setiap orang, hanya bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Qur`an tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. Dan dengan Al-Qur`an berarti telah tegak hujjah atas mereka.”

Obat (syifa`) yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum. Bagi hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek. Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan penyakit.

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُ فِي جَسَدِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَعْ يَدَكَ عَلىَ الَّذِي يَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ -ثَلَاثًا-؛ وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dia mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rasa sakit yang ada pada dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah: بِسْمِ اللهِ (tiga kali), kemudian bacalah tujuh kali:

أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan’.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Atau berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik, atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari Islam. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَقَدْ جَاءَ اللهُ تَعَالَى بِالْإِسْلاَمِ وَمِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ: فَلاَ تَأْتِهِمْ

“Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (HR. Muslim)

Dari Shafiyyah bintu Abi ‘Ubaid, dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

3. Bila sakitnya bertambah parah atau tidak kunjung sembuh, tidak diperbolehkan mengharapkan kematian.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

“Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagiku’.” (Muttafaqun ‘alaih)

4. Apabila dirinya mempunyai kewajiban (seperti hutang, pinjaman, dll), atau amanah yang belum dia tunaikan, atau kezaliman terhadap hak orang lain yang dia lakukan, hendaknya dia bersegera menyelesaikannya dengan yang bersangkutan, bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)

Dari Abu Huraiah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِيْنَارٌ وَدِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: ماَ أُرَانِي إِلاَّ مَقْتُولاً فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لاَ أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِإِخْوَتِكَ خَيْرًا. فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ

“Sebelum terjadi perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam harinya. Dia berkata: ‘Tidak aku kira kecuali aku akan terbunuh pada golongan yang pertama terbunuh di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya aku tidak meninggalkan setelahku orang yang lebih mulia darimu, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya aku mempunyai hutang maka tunaikanlah. Nasihatilah saudara-saudaramu dengan baik.’ Tatkala masuk pagi hari, dia termasuk orang yang pertama terbunuh.” (HR. Al-Bukhari)

5. Disyariatkan segera menulis wasiat dengan saksi dua orang lelaki muslim yang adil. Bila tidak didapatkan karena safar, boleh dengan saksi dua orang ahli kitab yang adil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (Al-Ma`idah: 106)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:

مَا حَقَّ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ وَلَهُ شَيْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلاَّ وَوَصَّيْتُهُ عِنْدَ رَأْسِهِ. وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلاَّ وَعِنْدِي وَصِيَّتِي

“Tidak berhak seorang muslim melalui dua malam dalam keadaan dia memiliki sesuatu yang ingin dia wasiatkan kecuali wasiatnya berada di sisinya.”

Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tidaklah berlalu atasku satu malam pun semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian, kecuali di sisiku ada wasiatku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata (At-Tamhid, 14/292): “Para ulama bersepakat bahwa wasiat itu bukan wajib, kecuali bagi orang yang memiliki tanggungan-tanggungan yang tanpa bukti, atau dia memiliki amanah yang tanpa saksi. Apabila demikian, dia wajib berwasiat. Tidak boleh dia melalui dua malam pun kecuali sungguh telah mempersaksikan hal itu.

Diperbolehkan baginya mewasiatkan sebagian harta yang ditinggalkan, maksimal sepertiganya. Tidak boleh lebih dari itu. Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku senang bahwa orang mengurangi dari jumlah 1/3 menjadi ¼ dalam hal wasiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sepertiga itu banyak’.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi)

Wasiat tersebut tidak boleh untuk ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kecuali dengan kerelaan dari seluruh ahli waris lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`)

Ibnu Mundzir rahimahullahu berkata (Al-Ijma’ hal. 100): “Para ulama sepakat bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali para ahli waris (yang lain) memperbolehkannya.”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/471): “Ketika wasiat itu adalah rekayasa dan jalan untuk memberi tambahan kepada sebagian ahli waris, serta mengurangi dari sebagian mereka, maka wasiat itu haram hukumnya, berdasarkan ijma’ dan dengan Al-Qur`an:

غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

“(Wasiat itu) tidak memberi mudarat (kepada sebagian pihak). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa`: 12)

Adapun wasiat yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wasiat tersebut batil dan tidak boleh dilaksanakan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru pada urusan (agama) ku ini apa yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Berwasiat agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata (Ahkamul Jana`iz, hal. 17-18): “Ketika adat kebiasaan yang dilakukan mayoritas kaum muslimin pada masa ini adalah bid’ah dalam urusan agama, lebih-lebih dalam masalah jenazah, maka termasuk perkara yang wajib adalah seorang muslim berwasiat (kepada ahli warisnya) agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah, untuk mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(Qs At-Tahrim: 6. )

Oleh karena itulah, para sahabat radhiyallahu ‘anhum mewasiatkan hal tersebut. Atsar-atsar dari mereka (dalam hal ini) banyak sekali. Di antaranya:

a. Dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa ayahnya (yakni Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu) berkata ketika sakit yang mengantarkan kepada wafatnya:

أَلْحِدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ نَصْبًا اللَّبِنَ كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللهِ n

“Buatlah liang lahat untukku, dan tegakkanlah atasku bata sebagaimana dilakukan demikian kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

b. Dari Abu Burdah dia berkata: Abu Musa radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan ketika hendak meninggal: “Apabila kalian berangkat membawa jenazahku maka cepatlah dalam berjalan. Jangan mengikutkan (jenazahku) dengan bara api. Sungguh jangan kalian membuat sesuatu yang akan menghalangiku dengan tanah. Janganlah membuat bangunan di atas kuburku. Aku mempersaksikan kepada kalian dari al-haliqah (wanita yang mencukur gundul rambutnya karena tertimpa musibah), as-saliqah (wanita yang menjerit karena tertimpa musibah), dan al-khariqah (wanita yang merobek-robek pakaiannya karena tertimpa musibah).” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/397, Al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah, sanadnya hasan)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Al-Adzkar: “Disunnahkan baginya dengan kuat untuk mewasiatkan kepada mereka (ahli waris) untuk menjauhi adat kebiasaan yang berupa bid’ah dalam pengurusan jenazah. Dan dikuatkan perkara tersebut (dengan wasiat).”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com dinukil dari http://www.darussalaf.or.id Penulis: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan Judul: Adab Ketika Sakit

Jumaat, November 27, 2015

Kuasa Doa


Dalam banyak hal, kita sering takut, bimbang, risau dan tidak tenteram. Lebih-lebih lagi dalam membuat persediaan untuk suatu perkara yang besar dan bermakna dalam hidup. 

Satu benda yang tidak boleh kita nafikan adalah bertapa berkuasanya doa pada kita dalam menghadapi saat-saat sebegini dalam hidup. Doa tu kan senjata bagi orang Islam. Jadi, berdoalah memohon kemudahan dan perlindungan dari Allah swt.

Amalan berdoa ini amat disukai Allah swt. Perkara ini jelas disebut dalam al-Quran yang mafhumnya jika kita berdoa pada Allah pasti Allah akan memakbulkan permintaan kita itu.

Begitu juga Nabi kita Muhammad saw menganjurkan kepada kita untuk berdoa, antaranya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah) - 

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

Oleh itu dalam apa keadaan pun, panjatkanlah doa kepada yang Esa. Sandarkan harapan pada kuasaNya. Mudah-mudahan Allah beri kita ampunan dan membantu kita dalam setiap keadaan.

Antara lain, admin ingin kongsikan doa yang boleh kita amalkan bagi dimudahkan urusan. Mudah-mudahan, dengan izinnya dimakbulkan.

Image result for doa dipermudahkan segala urusan


Aku Dan Al-Quran 1


Semalam, selepas waktu kerja saya sempat menemani seorang rakan 'mengeteh' di sebuah gerai. Topik perbualan awalnya biasa sahaja, tentang kerja dan keluarga. Tiba-tiba saya terlintas untuk berntanyakan soalan kepadanya.

'Macam mana ye kita nak jadi pandai? Maksudnya nak jadi orang yang berilmu, hebat macam para ulama' dulu? Kadang-kadang aku rasa bodoh sangat. Banyak benda yang tak tahu. Bila nak kaji, membaca tak tahu nak mula mana.'

Sambil meneguk air dari cawan, rakan saya itu senyum menjawab tapi dalam bentuk persoalan yang dipulangkan kepada saya, 'Berapa kali dah khatam quran?'

'Erk.. Kenapa pula? Tanya pendapat, dia tanya semula soalan kat kita' saya jawab dalam bingung.

'Itulah sebenarnya silap kita ni. Kita selalu lupa pada al-Quran. Sedangkan gedung segala ilmu itu adalah al-Quran. Baca al-Quran, hayati isi kandungannya, amalkan dan hafaz. InshaAllah selesai soalan kau tu.'

Dia tambah lagi, 'Cuba kau kaji para ulama' dulu, benda apa yang mula-mula mereka belajar?'

'Al-Quran..' saya jawab sambil tersengih macam kerang busuk.

'Itu lah kuncinya. Kunci segala ilmu yang ada di dunia ni ada pada Al-Quran tu. Ni kita nak baca pun malas. Seminggu berapa kali je kita buka al-Quran. Nak faham makna, lagilah jauh. Sedangkan mereka menghafaz al-Quran tu, tanam, pasak dalam ingatan, dalam hati mereka. Sebab tu mereka ni power!

Haaa..ambik kau!

Jawapan tu buat saya diam, pergi kaunter bayar duit..balik..

Insaf kejap..

Khamis, Disember 19, 2013

Ujian, Kiamat Dan Rekod

Malam semalam kereta saya tidak boleh dihidupkan! Berkali-kali saya cuba memulas kunci, namun hanya sia-sia. Perkara ini sebenarnya sudah dijangka. Sejak sebulan dua ini memang kereta saya sukar dihidupkan. 

Masalah ini tidak lain berpunca daripada bateri yang sudah melebihi jangka hayatnya yang biasa. Namun, saya biarkan dan tangguhkan sahaja masalah itu tanpa diselesaikan segera. Inilah akibatnya. Padan muka!

Segera saya mencari jumper yang dirasakan ada dalam kereta. Cari punya cari baru teringat, jumper itu ada pada rakan saya, dia terlupa untuk pulangkan semula setelah dipinjam sebulan lalu.

Nah! Kalut dibuatnya. Sekarang timpul penyesalan yang amat sangat, kenapa saya tidak segera menukar bateri setelah mengalami beberapa ratus kali keadaan sukar menghidupkan enjin kereta. Kenapa saya tidak meminta semula jumper dari rakan saya untuk persediaan keadaan sebegini?

Tapi nak menyesal pun sudah tidak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Redha sahajalah. Mujur bapa saudara saya tinggal berhampiran tempat kejadian dan datang membantu dengan segera.

Pagi ini, ketika ralit memerhati bateri kereta saya ditukar, saya terfikirkan sesuatu:

Benarlah mati itu tidak menunggu waktu, ketika dan tempat. Tanda-tandanya sudah ada, namun dek terpesona dengan kehidupan seharian, kita biarkan sahaja tanda-tanda itu tanpa bersedia menghadapinya. Dibiar, diabai lalu dilupakan terus....

Akhirnya bila tiba masa yang dijanjikan, kita hanya mampu menyesal. Kenapalah kita tidak bertindak awal-awal lagi untuk cukup bersedia menghadapinya. Kenapa kita lambat bertindak...kenapa...kenapa..dan kenapa???

Itulah manusia. Suka bertangguh dan berlengah sedang akhir kehidupan itu bila-bila masa sahaja boleh datang menjengah. Hayat bateri kereta saya sudah berakhir, hayat saya pula bila-bila masa Tuhan boleh akhiri.

**********

Dua tiga minggu ini sibuk masyarakat berbicara tentang kiamat. Bermula dengan banjir yang berlaku di negeri-negeri pantai timur hinggalah kepada fenomena turunnya salji di Mesir dan Vietnam. 

Orang ramai jadi bimbang dan risau. Banyaklah perkongsian artikel dan nota pendek berkaitan di laman-laman sosial. Tapi yang menjadi persoalan adakah kita mengambil iktibar atas apa yang berlaku lalu kita berubah atau mungkin bersedia menghadapi kemungkinan itu?

Mungkin ada dan mungkin juga tiada langsung.

Ketahuilah, bahawa sebenarnya tanda-tanda kiamat sudah lama bermula (tanda-tanda kecil). Tapi kita masih seperti sebelum-sebelumnya. Sama tanpa ada beza yang ketara.
 
Tanda-tanda akhir zaman cukup banyak untuk kita renung dan nilaikan sebenarnya. Tinggal kita mahu atau tidak untuk bersedia. Bahkan kita ini memang dinamakan umat akhir zaman, jadi tak perlulah kita kecoh dengan kiamat berlaku bila dan sebagainya. 

Kiamat itu pasti, tiada keraguan padanya.

Tapi bila berlakunya itu terserah pada Allah. Hatta Rasul pun tidak tahu bila ia bakal berlaku. Sebagai hamba Allah, kita bersiaplah dengan sebaik mungkin agar tidak menyesal bila waktunya tiba.

Ada lagi perlu kita ingat, percaya kepada hari kiamat itu adalah salah satu daripada rukum Iman!

*********

Baru-baru ini negeri-negeri pantai timur dilanda banjir yang cukup hebat. Antara kawasan yang paling teruk adalah Kuantan. Saya sendiri yang tinggal di Kuantan ini  bernasib baik kerana kawasan rumah jauh dari tempat berlakunya bencana banjir.

Bagaimanapun, bahang bencana itu tetap dirasai oleh kami sekeluarga.

Jalan-jalan tidak boleh dilalui. Hujan yang mencurah dengan sangat lebat selama dua-tiga hari. Langit yang terus gelap. Tiada elektrik, tiada air. Orang ramai berpusu-pusu membeli keperluan di kedai-kedai dan pasaraya hingga beberapa jenis barang keperluan seperti telur dan roti habis.

Semua orang kecoh. 

Itu baru kisah saya. Belum lagi kisah rakan-rakan yang berada di tempat bencana. Contohnya rakan saya yang tinggal di kawasan paling teruk terjejas, Sungai Isap menceritakan saat-saat getir dia dan keluarganya ketika bencana berlaku.

Katanya keadaan kucar kacir. Orang ramai seolah-olah hilang arah. 

Macam nak kiamat!

Air naik terlalu cepat. Dalam masa satu jam sahaja terus menghampiri paras pinggang. 

Dia yang memiliki tiga orang anak yang semuanya masih kecil (paling kecil berumur 2 atau 3 bulan sahaja) perlu berfikir panjang untuk bergerak ke pusat pemindahan. Air semakin naik. Untuk berjalan meranduk air bimbang anak-anaknya terjatuh ke dalam longkang dan sebagainya. Lagi-lagi ketika itu waktu tengah malam, gelap.

Mujur ada jiran yang sudi membantu. Dibawanya rakan saya itu sekeluarga ke tempat yang selamat menaiki kenderaan yang mampu mengharung air.

Cerita belum habis lagi...

Di pusat pemindahan keadaan lebih teruk. Mereka dikepung oleh air. Bantuan tidak dapat sampai dengan kadar yang segera. Makanan tiada, air bersih tiada. 

Ada orang-orang tua, ada ibu yang masih dalam pantang, ada bayi dan anak-anak yang perlu minum susu dan bermacam jenis orang lagi. Semuanya sehelai sepinggang. Duduklah mereka di situ selama tiga hari sebelum bantuan sampai. Itupun ketika makan berebut-rebut kerana tidak cukup untuk semua orang. Tidur beralas kotak - ada juga yang hanya beralas lengan sahaja.

Inilah ujian.

Cukup berat bagi siapa yang merasainya. Saya sungguh rasa terharu dan insaf atas apa yang berlaku. Moga Allah beri kekuatan kepada mereka semua untuk berhadapan dengan ujian ini.

Benarlah apa yang disebut oleh Nabi di dalam hadis baginda:

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasullullah s.a.w. bersabda:

"Orang Mukmin sama ada lelaki ataupun perempuan akan sentiasa diuji oleh Allah, samada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehinggalah dia menghadap Allah tanpa dia membawa sedikit dosa pun."

Moga dosa-dosa mangsa bencana banjir baru-baru ini diampun Allah dengan ujian berat menimpa mereka.

Satu lagi peringatan tentang ujian ini, sebagaimana disebut Allah dalam surah al-Ankabut ayat 2-3 bermaksud:

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Mudah-mudahan setiap daripada kita yang diuji Allah bakal ditambah keimanan masing-masing. Sungguh, apa pun bentuk ujian sangatlah perit namun ada janji-janji yang baik lagi manis yang Allah janjikan pada kita. Moga bertabah!

*************

Tahun ini saya telah mencipta rekod peribadi!

Satu aksara pun tidak saya coretkan di laman ini. Entahlah, kesibukan (ujian masa, kerja, keluarga dan bagai-bagai lagi) sedikit menggugat upaya saya untuk menulis  di sini. Bukan tidak menulis langsung, saya tetap menulis tetapi di tempat lain (atas white board, atas kertas kosong, atas meja, di wall facebook, wassaps dan banyak lagi..huhu)...

Tapi apabila difikir-fikirkan, saya tidak boleh melupakan terus laman ini. Jadi pagi tadi, setelah diperam hampir beberapa bulan akhirnya meletus juga keinginan untuk mencoret itu!

Tahniah pada diri sendiri!

Sukar sungguh untuk memecah tempoh yang menghalang keinginan menulis ini rupanya.

Satu lagi rekod yang saya pun tidak sangka mampu untuk dilakukan adalah tahun ini saya berjaya mencapai target yang saya coret dalam artikel penghujung bulan 12 lalu. Saya meletak sasaran untuk menulis dan menerbitkan tiga buah buku pada tahun ini. 

Alhamdulillah, ketiga-tiga buku itu berjaya saya siapkan dan sudah pun dijual di kedai-kedai buku seluruh Malaysia. Sebuah buku saya hasilkan sendiri dan dua buah lagi saya berkerjasama dengan beberapa orang rakan.

Apapun terima kasih diucapkan kepada pihak penerbit, Must Read Sdn Bhd kerana sudi mempelawa saya menulis di bawah naungan syarikat mereka dan berterusan memberi sokongan dan galakkan. Terima kasih. Moga Allah membalas apa yang kalian usahakan ini dengan balasan yang sangat mulia.

********

Hanya tinggal beberapa hari sahaja lagi untuk kita melangkah ke tahun 2014. Bagaimana rupa, keadaan dan suasana tahun hadapan itu adalah di luar pengetahuan kita. Yang boleh kita lakukan berdoa pada Allah agar semuanya baik-baik belaka dan kita dapat mencapai segala rancangan, sasaran mahupun apa sahaja dengan jayanya, Insha Allah.



Sabtu, Jun 30, 2012

Satu Catatan Hari

Hari-hari yang kita lalui sentiasa berbeza. Ada rima yang serupa, ada juga warna yang sama namun samada kecil atau besar tetap juga ia berlainan muziknya. Terpulang pada kita menilai setiap perbezaan itu. Jika hanya dipandang dengan tenungan bersahaja, tidak ada makna. Namun, jika dihitung dengan pemerhatian yang lebih dalam dan lebih tajam, ia membuah seribu cerita pembina jiwa.

Hari ini, banyak perkara yang berlari, berebut minta disegerakan catatannya. Ia mengasak-ngasak minda, merayu agar segera diturunkan kisahnya.

Kisah 1

12.15 tengah hari, saya berteleku di tangga masjid. Selepas sahaja habis program ceramah di dewan kolej, saya ambil keputusan untuk tiba awal di masjid. Hajat mahu terus pulang ke Temerloh, berjumpa isteri tercinta. Setelah ditimbang-tara hajat tersebut, lebih baik rasanya dahulukan yang utama, solat Jumaat.

Namun, ada satu yang memeranjatkan saya. Ketika leka menikmati hembus angin di halaman masjid, saya terlihat sekumpulan 'wanita' sedang berehat-rehat di ruang belakang masjid. Pakaian dan fashionnya jelas menerangkan jantinanya.

Lebih menarik, sahabat saya Ustaz Azizurrahman menunjukkan muka pelik selepas keluar dari tandas.

" Ana peliklah masuk tandas tadi..." katanya dalam penuh kekeliruan.

Dan saya memang cukup arif dan faham apa yang dimaksudkan oleh sahabat saya itu.

Selepas solat Jumaat, saya berjalan ke arah tiang paling belakang di dalam masjid. Duduk mengumpul tenaga. Dalam penuh keliru saya memandang lagi sekumpulan orang yang saya katakan 'wanita' tadi bersalaman dengan beberapa orang yang saya percaya merupakan ustaz-ustaz yang membimbing mereka.

Lalu kekeliruan dan tanda-tanya saya terjawab. Melihatkan kelakuan, mendengar butir halus perbualan mereka baru saya tahu siapa mereka.

Mereka adalah manusia-manusia hebat dan sedang melalui jalan keinsafan. Ada program yang dianjurkan (seperti kem) buat membantu mereka semua. Memang melihatkan kepada penampilan dan fizikal mereka saya jadi terkejut pada awalnya. Namun sekarang saya amat menghormati mereka dan cukup respect dengan keberanian mereka hadir ke masjid dan solat Jumaat bersama-sama kami.

Mungkin itu salah satu dari tentatif program, tapi untuk beridiri bersama dalam solat Jumaat dan kehadiran mereka dipandang sinis oleh ramai jemaah, saya jadi hormat kepada mereka.

Memang untuk berubah ke arah yang lebih baik bukanlah semudah kita melalui sebuah lebuhraya. Lurus dan lancar jalannya. Ia sama seperti kita masuk ke dalam denai hutan yang penuh lekuk, lopak dan halangan yang perit untuk sampai ke hujungnya.

Percayalah, jika semua halangan itu dapat diatasi nescaya bermaknalah sebuah perjalanan bila sahaja sampai ke destinasi. Apatah lagi yang dituju itu merupakan destinasi abadi kurniaan Illahi. Penuh warna-warni kenikmatan.

Kepada sesiapa pun yang ingin untuk memilih jalan sukar ini, saya doakan moga anda semua selamat sampai dengan penuh kenikmatan. Tabah dan jangan takut. Biarkan pandangan orang terhadap kita. Yang penting kita fikir pandangan Allah kepada kita.

Moga Allah kurniakan mereka dan kita semua rahmat dan petunjuk dan ketabahan menuju jalan keimanan.

TAHNIAH!


Kisah 2

Kebiasaan saya apabila pulang ke kampung di Temerloh, saya akan mengambil laluan lebuhraya LPT yang saya kira lebih pantas dan mudah. Pilihan ini bertambah tepat jika dilihat pada kedudukan kawasan rumah sewa saya yang terletak bersebelahan exit Kuantan.

Namun hari ini saya tidak memilih laluan lebuhraya. Sengaja mahu berubah angin. Lalu saya memilih jalan biasa yang melalui bandar Gambang, Sri Jaya dan Maran. Lagipun jika daripada pejabat, lebih mudah memilih laluan ini.

Pilihan ini tepat!

Sepanjang laluan saya berasa segar dan begitu teruja. Dengan hamparan pohon-pohon hijau yang membarisi di sepanjang laluan dan gelagat penduduk tempatan saya jadi tertarik. Kantuk yang sering menghantui saya jika pulang sudah hilang! Ini sudah bagus. Lebih menarik, saya tidak perlu membayar tol dan telah melakukan penjimatan sebanyak RM 12.30!

Memang jika dinilai berdasarkan keadaan jalan dan faktor keselesaan, tidak ada yang mengasyikkan. Namun benarlah jalan yang berliku-liku, berlubang dan berdebu ini lebih mendatangkan kebahagian kepada hati.

Begitu juga dalam hidup ini.

Tidak semestinya jalan yang lurus, mudah itu mampu memberikan kita kebahagian kepada diri kita. Bahkan mungkin kita perlu 'membayar' untuk kemudahan dan keselesaan tersebut.

Namun, jalan yang berliku, berdebu berlopak ini, walau juga ada harga yang perlu dibayar ia tidak sampai merugikan. Bayarannya bahkan membuat kita untung. Dan ganjarannya menanti di hujung!

Bagaimana kita memilih jalan hidup, begitulah juga natijah yang bakal kita hirup. Sama ada selesa dalam gundah atau payah dalam indah.


Kisah 3

Petang itu, saya tidak terus pulang ke rumah. Sampai sahaja di Temerloh saya terus ke bandar. Menyusup di antara lorong-lorong dan kereta-kereta yang ada mencari kedai gunting rambut. Ada yang biasa saya kunjungi, berhampiran masjid. Tapi katannya ada hal dan perlu segera ke hospital.

Saya teruskan usaha mencari. Kali ini ke lorong yang terkenal dengan kedai gunting rambut dan kedai kunci. Saya ambil selekoh kiri dari masjid, kemudian memberi isyarat ke kanan. Masuk sahaja ada kereta menghalang.

Saya perlahankan kereta. Hampir berhenti.

Kedai gunting rambut di sebelah kiri sesak. Ramai orang sedang menanti giliran. Kereta di hadapan masih belum berganjak.

Ketika saya toleh ke kiri, saya lihat satu tempat yang menyimpan banyak nostalgia silam. Saya memandang dengan mata penuh bersinar teruja. Pandangan saya pula tepat mengenai tuan punya kedai. Seorang lelaki separuh abad. Cina. Dia senyum dalam raut penuh menyimpan cerita susah senang seorang peniaga.

Saya balas senyumnya sambil mata menyoroti seluruh ruang kedainya. Ia sebuah kedai menjual permainan. Tidak besar, hanya ruang kecil di sebuah lorong. Nampak kosong dan berhabuk.

Kalau dahulu bermacam mainan yang ada. Dari sekecil ular getah tiruan, hinggalah kepada set robot yang diletak di tingkat paling atas rak. Ada juga berkotak-kotak mainan kereta dashingkuro atau Tamiya (saya pun lupa ejaannya) yang dijual.

Kalau dahulu, di kaki lima inilah saya selalu menangis, menarik-narik baju kurung Ibu saya.

"Along nak beli tu..!"

" Tak boleh. Dah banyak permainan di rumah. Membazir"

"Nak juga..nak juga..waaaaa.!"

Rengekan dan raungan yang akhirnya jika tidak dilayan samada menguntungkan atau juga boleh merugikan diri saya sendiri.

Untung jika Ibu terharu dan membelikan mainan yang diinginkan.

Rugi jika Ibu biarkan dan Abah datang menarik saya masuk ke dalam van kelabu dan kemudian dirotan kerana degil.

Begitulah cerita anak kecil.

Dan kedai ini menjadi saksinya. Bukan sahaja saya bahkan mungkin siapa-siapa yang tinggal di bandar Temerloh mengalaminya dan pasti juga ingat akan kedai ini. Dahulu inilah satu-satunya kedai mainan yang hebat!

Uncle itu sekarang sudah dimamah usia. Saya sebagai pelanggan tetapnya yang membeli robot, kereta kawalan dan ular mainan buat menyakat kawan perempuan pun sedikit-sedikit dimamah usia.

Semuanya berubah

Sekarang kedai-kedai menjual permainan juga telah banyak wujud. Bandar Temerloh membangun pesat. Tapi yang saya kagumi, Uncle itu masih lagi di situ menghabiskan usianya. Dalam matanya saya membaca bahasa kesayuan yang amat. Mungkin sudah kurang orang yang datang dan melakonkan semula watak saya ketika kecil ; merenget dan menarik-narik baju serta menghentak kaki minta belas dibelikan mainan.

Masa berganjak.

Mungkin beberapa tahun, saya pula yang hadir membawa anak kecil saya yang berperangai seperti bapanya. Itupun jika kedai ini masih ada dan Uncle itu pun masih menunggu sabar pelanggannya.

Yang pasti, maut pasti menjemput setiap daripada kita.

Dalam enak mengupas memori lalu, tersentak saya akan beberapa soalan.

Sejauh ini perjalanan hidup, apa yang saya telah lakukan? Pada Ibu yang melayan kerenah ditarik baju di khalayak dan pada Abah yang terpaksa memenuhkan hajat saya pada permainan, adakah telah saya balas jasa mereka.

Pada usia yang sentiasa bergerak, adakah kebaikan yang memenuhinya?

Dan pada bekal yang saya bakal bawa, sudah terisikah ia sepenuhnya?

Saya memandu pulang dalam persoalan yang tidak ada jawapan. Tidak berani mengatakan YA! Yang pasti hari ini sebagai penghulu hari, Allah telah menambah kemuliaannya dengan menyedarkan saya.

Benar, Jumaat merupakan hari yang istimewa.





Firdaus Shahidin
Temerloh / 30 Jun 2012/ 6.00 pm.


Rabu, Jun 27, 2012

Terkejut Beruk


Pagi tadi, sedang enak menikmati teh limau panas di cafe kolej, saya terpandang satu situasi yang agak melucukan.

Seekor kucing yang sedang enak menyantap 'sarapannya' terkejut beruk selepas menyedari di sebelahnya terdapat seekor beruk. Cepat-cepat kucing tersebut lari meninggalkan sarapannya yang sedia terhidang.

Dan beruk tersebut cukup girang mendapat sarapan 'percuma' terhidang di depan mata. Dengan senyum yang melebar menampakkan barisan giginya yang putih kekuningan itu, dia melompat bangga sambil menjinjing plastik kuning berisi sambal bilis yang diperoleh percuma.

Mungkin dia amat berterima kasih pada Tuhan atas rezekinya hari ini sambil melompat pergi.

Namun, selepas sahaja saya mengalih pandangan ke sebelah kanan, saya juga terkejut beruk melihat penampilan seorang pelajar di sini.

Mahu datang belajar atau mahu berpesta??

"Ini juga 'rezeki' percuma. Tapi jika 'disantap', bukan kenyang dirasa, padah pula menimpa." Kata hati saya sambil menguntum senyum.