Memaparkan catatan dengan label Artikel. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Artikel. Papar semua catatan

Selasa, April 14, 2020

Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) COVID19 Di Malaysia

Image by fernando zhiminaicela from Pixabay 
Ini kenangan yang wajar dicatat. Biar menjadi sejarah yang kekal diingat.
Saya menemui catatan ini di Facebook yang banyak dikongsi tapi malangnya tidak tahu penulis yang asal. Mohon untuk dikongsi juga di sini:
Takkan sesekali aku lupa ...
18 MAC - 31 MAC 2020 fasa 1
01 APR - 14 APR2020 fasa 2
15 APR - 28 APR 2020 fasa 3
Perintah Kawalan Pergerakan seluruh .
harga minyak jatuh sehingga RM1.25/liter.
Semua pejabat di seluruh Malaysia diarah tutup sepanjang Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) dan kerja - kerja dilaksanakan sepenuhnya dari rumah.
Semua sekolah dan pendidikan dilaksanakan di atas talian.
Penjarakkan sosial sentiasa diutamakan.
Pita pelekat dilekatkan di atas lantai - lantai kedai untuk menentukan jarak selamat 1 meter di antara pelanggan.
Restoran dan kedai - kedai makan ditutup, hanya dibenarkan bungkus sahaja.
Hanya beberapa orang sahaja dibenarkan berada di dalam kedai.
Kedai bukan keperluan asas dan perniagaan tidak berkaitan pembekalan makanan diarah tutup.
Keseluruhan acara dan musim sukan di seluruh dunia dibatalkan serta merta.
Konsert, perlancongan, festival, acara hiburan dibatalkan.
Majlis perkahwinan dan pelbagai sambutan majlis bersama keluarga dibatalkan.
Tiada lagi jemaah di masjid, dan rumah - rumah ibadat ditutup.
Tidak dibenarkan perkumpulan 50 orang atau lebih, kemudian diubah kepada 20 org atau lebih, hanya dibenarkan 10 orang atau kurang dari itu dibenarkan.
Taman permainan kanak - kanak ditutup.
Kekurangan stok penutup muka, gaun,
dan sarung tangan untuk kegunaan pekerja barisan hadapan.
Kekurangan alat bantuan pernafasan
bagi pesakit kritikal.
Berlakunya pembelian panik sehingga kekurangan alat pembasmian, tiada sabun cuci tangan, tiada cecair pembersih tangan.
Rak - rak di kedai menjadi kosong.
Kilang - kilang pembuatan, kilang penyulingan dan perniagaan lain telah menukar perkhidmatan mereka dengan membantu menyediakan visors, penutup muka, cecair pencuci tangan dan PPE.
Kerajaan telah melaksanakan sekatan jalan di setiap kawasan dan tertutup kepada pergerakan yang tidak penting.
Tiket kapal terbang murah, namun kita tidak boleh keluar melancong.
Sidang media dari Kementerian Kesihatan di keudarakan setiap hari.
Kemaskini kes baru, yang telah sembuh dan pesakit yang meninggal dunia dilakukan setiap hari.
Jalan raya menjadi kosong tanpa kelibat manusia.
Ramai orang memakai penutup muka dan sarung tangan apabila keluar.
Pekerja perkhidmatan penting menjadi takut untuk keluar rumah.
Pekerja kesihatan pula, menjadi takut untuk pulang ke rumah dan berjumpa keluarga.
"Mendatarkan lengkung graf" itulah yang sering dikatakan, bersama dengan kata-kata " Kita lakukan ini bersama" dan "Kita harus menang".
Ini adalah Novel Coronavirus ( Covid-19) suatu penyakit pandemik, yang diwartakan pada 18 mac 2020.

Image by Federico Tak from Pixabay 
Kenapa saya copy paste status ini?
Kerana, satu hari nanti, status ini akan muncul di paparan ingatan FB saya, dan ia memberikan peringatan kepada saya, supaya menghargai nyawa ini dan orang - orang yang kita sayang.
Nikmat mana lagi yang telah kita dustai?
Bersyukurlah.
Dan sentiasa berterima kasih.
Lakukan kebaikan antara satu sama lain - sayangi antara satu sama lain - dan sentiasa menyokong antara satu sama lain.
Kita semua adalah satu !
Simpan,itupun kalau sempat baca lagi tahun depan. Kita didunia ni hanya sementar tak lama.

Isnin, Disember 28, 2015

SAKIT

Adab Ketika Sakit

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat hikmah dan keadilan-Nya menimpakan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada khususnya, dan seluruh makhluk pada umumnya.

Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya berbagai jenis penyakit di zaman ini, karena kemaksiatan dan kedurhakaan umat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Islam adalah agama yang sempurna, yang menuntut seorang muslim agar tetap menjaga keimanannya dan status dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang muslim akan memandang berbagai penyakit itu sebagai:

1. Ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini: “Kami menguji kalian, terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Maka Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (terhadap nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala), siapa yang sabar dan siapa yang putus asa (dari rahmat-Nya). Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: ‘Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, dengan kesehatan dan sakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan kemaksiatan, dengan petunjuk dan kesesatan; kemudian Kami akan membalas amalan-amalan kalian’.”

Ujian dan cobaan akan datang silih berganti hingga datangnya kematian.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Al-Baqarah: 214)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “(Ujian yang akan datang adalah) berbagai penyakit, sakit, musibah, dan cobaan-cobaan lainnya.”

Bila demikian, maka sikap seorang muslim tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah senantiasa berusaha sabar, ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, terus-menerus memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tidak marah dan murka terhadap taqdir yang menimpa dirinya, tidak pula putus asa dari rahmat-Nya.

2. Penghapus dosa.

Seandainya setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan mesti dibalas tanpa ada maghfirah (ampunan)-Nya ataupun penghapus dosa yang lain, maka siapakah di antara kita yang selamat dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sehingga, termasuk hikmah dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia menjadikan berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa kita.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu:

a. mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).

b. lupa (akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari penjelasan ini, ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa musibah: beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan mendapatkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia marah dan tidak sabar atas taqdir tersebut.”

3. Kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak dilupakan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang terlupa darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Betapa banyak orang yang menyadari keberadaan nikmat kesehatan ini, setelah dia jatuh sakit. Sehingga musibah sakit ini menjadi peringatan yang berharga baginya. Setelah itu dia banyak bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Itulah golongan yang beruntung.

Adab-adab Syar’i ketika Sakit

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

“Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Diriwayatkan dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 1633)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Di antara bentuk pengobatan yang sunnah adalah:

a. Madu dan berbekam

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: شُرْبَةِ عَسَلٍ، وَشِرْطَةِ مُحَجِّمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى عَنِ الْكَيِّ –وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِي

“Obat itu ada pada tiga hal: minum madu, goresan bekam, dan kay1 dengan api, namun aku melarang kay.” (HR. Al-Bukhari) 1 Besi dibakar, lalu ditempelkan pada urat yang sakit.

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay.”

b. Al-Habbatus sauda` (jintan hitam)

Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَ السَّامَ

“Al-Habbatus Sauda` (jintan hitam) adalah obat untuk segala penyakit, kecuali kematian.” (HR. Ath-Thabarani. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu bahwa sanadnya hasan, dan hadits ini punya banyak syawahid/pendukung)

c. Kurma ‘ajwah

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ أَوَّلُ الْبُكْرَةِ عَلىَ رِيْقِ النَّفَسِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سِحْرٍ أَوْ سُمٍّ

“Pada kurma ‘ajwah ‘Aliyah yang dimakan pada awal pagi (sebelum makan yang lain) adalah obat bagi semua sihir atau racun.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Lihat Ash-Shahihah no. 2000)

d. Ruqyah

Yaitu membacakan surat atau ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan, kepada orang yang sakit. Bisa dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsirnya berkata: “Al-Qur`an itu mengandung syifa` (obat) dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak berlaku untuk setiap orang, hanya bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Qur`an tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. Dan dengan Al-Qur`an berarti telah tegak hujjah atas mereka.”

Obat (syifa`) yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum. Bagi hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek. Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan penyakit.

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُ فِي جَسَدِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَعْ يَدَكَ عَلىَ الَّذِي يَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ -ثَلَاثًا-؛ وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dia mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rasa sakit yang ada pada dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah: بِسْمِ اللهِ (tiga kali), kemudian bacalah tujuh kali:

أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan’.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Atau berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik, atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari Islam. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَقَدْ جَاءَ اللهُ تَعَالَى بِالْإِسْلاَمِ وَمِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ: فَلاَ تَأْتِهِمْ

“Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (HR. Muslim)

Dari Shafiyyah bintu Abi ‘Ubaid, dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

3. Bila sakitnya bertambah parah atau tidak kunjung sembuh, tidak diperbolehkan mengharapkan kematian.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

“Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagiku’.” (Muttafaqun ‘alaih)

4. Apabila dirinya mempunyai kewajiban (seperti hutang, pinjaman, dll), atau amanah yang belum dia tunaikan, atau kezaliman terhadap hak orang lain yang dia lakukan, hendaknya dia bersegera menyelesaikannya dengan yang bersangkutan, bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)

Dari Abu Huraiah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِيْنَارٌ وَدِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: ماَ أُرَانِي إِلاَّ مَقْتُولاً فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لاَ أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِإِخْوَتِكَ خَيْرًا. فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ

“Sebelum terjadi perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam harinya. Dia berkata: ‘Tidak aku kira kecuali aku akan terbunuh pada golongan yang pertama terbunuh di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya aku tidak meninggalkan setelahku orang yang lebih mulia darimu, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya aku mempunyai hutang maka tunaikanlah. Nasihatilah saudara-saudaramu dengan baik.’ Tatkala masuk pagi hari, dia termasuk orang yang pertama terbunuh.” (HR. Al-Bukhari)

5. Disyariatkan segera menulis wasiat dengan saksi dua orang lelaki muslim yang adil. Bila tidak didapatkan karena safar, boleh dengan saksi dua orang ahli kitab yang adil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (Al-Ma`idah: 106)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:

مَا حَقَّ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ وَلَهُ شَيْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلاَّ وَوَصَّيْتُهُ عِنْدَ رَأْسِهِ. وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلاَّ وَعِنْدِي وَصِيَّتِي

“Tidak berhak seorang muslim melalui dua malam dalam keadaan dia memiliki sesuatu yang ingin dia wasiatkan kecuali wasiatnya berada di sisinya.”

Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tidaklah berlalu atasku satu malam pun semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian, kecuali di sisiku ada wasiatku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata (At-Tamhid, 14/292): “Para ulama bersepakat bahwa wasiat itu bukan wajib, kecuali bagi orang yang memiliki tanggungan-tanggungan yang tanpa bukti, atau dia memiliki amanah yang tanpa saksi. Apabila demikian, dia wajib berwasiat. Tidak boleh dia melalui dua malam pun kecuali sungguh telah mempersaksikan hal itu.

Diperbolehkan baginya mewasiatkan sebagian harta yang ditinggalkan, maksimal sepertiganya. Tidak boleh lebih dari itu. Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku senang bahwa orang mengurangi dari jumlah 1/3 menjadi ¼ dalam hal wasiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sepertiga itu banyak’.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi)

Wasiat tersebut tidak boleh untuk ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kecuali dengan kerelaan dari seluruh ahli waris lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`)

Ibnu Mundzir rahimahullahu berkata (Al-Ijma’ hal. 100): “Para ulama sepakat bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali para ahli waris (yang lain) memperbolehkannya.”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/471): “Ketika wasiat itu adalah rekayasa dan jalan untuk memberi tambahan kepada sebagian ahli waris, serta mengurangi dari sebagian mereka, maka wasiat itu haram hukumnya, berdasarkan ijma’ dan dengan Al-Qur`an:

غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

“(Wasiat itu) tidak memberi mudarat (kepada sebagian pihak). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa`: 12)

Adapun wasiat yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wasiat tersebut batil dan tidak boleh dilaksanakan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru pada urusan (agama) ku ini apa yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Berwasiat agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata (Ahkamul Jana`iz, hal. 17-18): “Ketika adat kebiasaan yang dilakukan mayoritas kaum muslimin pada masa ini adalah bid’ah dalam urusan agama, lebih-lebih dalam masalah jenazah, maka termasuk perkara yang wajib adalah seorang muslim berwasiat (kepada ahli warisnya) agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah, untuk mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(Qs At-Tahrim: 6. )

Oleh karena itulah, para sahabat radhiyallahu ‘anhum mewasiatkan hal tersebut. Atsar-atsar dari mereka (dalam hal ini) banyak sekali. Di antaranya:

a. Dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa ayahnya (yakni Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu) berkata ketika sakit yang mengantarkan kepada wafatnya:

أَلْحِدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ نَصْبًا اللَّبِنَ كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللهِ n

“Buatlah liang lahat untukku, dan tegakkanlah atasku bata sebagaimana dilakukan demikian kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

b. Dari Abu Burdah dia berkata: Abu Musa radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan ketika hendak meninggal: “Apabila kalian berangkat membawa jenazahku maka cepatlah dalam berjalan. Jangan mengikutkan (jenazahku) dengan bara api. Sungguh jangan kalian membuat sesuatu yang akan menghalangiku dengan tanah. Janganlah membuat bangunan di atas kuburku. Aku mempersaksikan kepada kalian dari al-haliqah (wanita yang mencukur gundul rambutnya karena tertimpa musibah), as-saliqah (wanita yang menjerit karena tertimpa musibah), dan al-khariqah (wanita yang merobek-robek pakaiannya karena tertimpa musibah).” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/397, Al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah, sanadnya hasan)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Al-Adzkar: “Disunnahkan baginya dengan kuat untuk mewasiatkan kepada mereka (ahli waris) untuk menjauhi adat kebiasaan yang berupa bid’ah dalam pengurusan jenazah. Dan dikuatkan perkara tersebut (dengan wasiat).”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com dinukil dari http://www.darussalaf.or.id Penulis: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan Judul: Adab Ketika Sakit

Jumaat, November 27, 2015

Kuasa Doa


Dalam banyak hal, kita sering takut, bimbang, risau dan tidak tenteram. Lebih-lebih lagi dalam membuat persediaan untuk suatu perkara yang besar dan bermakna dalam hidup. 

Satu benda yang tidak boleh kita nafikan adalah bertapa berkuasanya doa pada kita dalam menghadapi saat-saat sebegini dalam hidup. Doa tu kan senjata bagi orang Islam. Jadi, berdoalah memohon kemudahan dan perlindungan dari Allah swt.

Amalan berdoa ini amat disukai Allah swt. Perkara ini jelas disebut dalam al-Quran yang mafhumnya jika kita berdoa pada Allah pasti Allah akan memakbulkan permintaan kita itu.

Begitu juga Nabi kita Muhammad saw menganjurkan kepada kita untuk berdoa, antaranya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah) - 

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

Oleh itu dalam apa keadaan pun, panjatkanlah doa kepada yang Esa. Sandarkan harapan pada kuasaNya. Mudah-mudahan Allah beri kita ampunan dan membantu kita dalam setiap keadaan.

Antara lain, admin ingin kongsikan doa yang boleh kita amalkan bagi dimudahkan urusan. Mudah-mudahan, dengan izinnya dimakbulkan.

Image result for doa dipermudahkan segala urusan


Khamis, Disember 19, 2013

Ujian, Kiamat Dan Rekod

Malam semalam kereta saya tidak boleh dihidupkan! Berkali-kali saya cuba memulas kunci, namun hanya sia-sia. Perkara ini sebenarnya sudah dijangka. Sejak sebulan dua ini memang kereta saya sukar dihidupkan. 

Masalah ini tidak lain berpunca daripada bateri yang sudah melebihi jangka hayatnya yang biasa. Namun, saya biarkan dan tangguhkan sahaja masalah itu tanpa diselesaikan segera. Inilah akibatnya. Padan muka!

Segera saya mencari jumper yang dirasakan ada dalam kereta. Cari punya cari baru teringat, jumper itu ada pada rakan saya, dia terlupa untuk pulangkan semula setelah dipinjam sebulan lalu.

Nah! Kalut dibuatnya. Sekarang timpul penyesalan yang amat sangat, kenapa saya tidak segera menukar bateri setelah mengalami beberapa ratus kali keadaan sukar menghidupkan enjin kereta. Kenapa saya tidak meminta semula jumper dari rakan saya untuk persediaan keadaan sebegini?

Tapi nak menyesal pun sudah tidak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Redha sahajalah. Mujur bapa saudara saya tinggal berhampiran tempat kejadian dan datang membantu dengan segera.

Pagi ini, ketika ralit memerhati bateri kereta saya ditukar, saya terfikirkan sesuatu:

Benarlah mati itu tidak menunggu waktu, ketika dan tempat. Tanda-tandanya sudah ada, namun dek terpesona dengan kehidupan seharian, kita biarkan sahaja tanda-tanda itu tanpa bersedia menghadapinya. Dibiar, diabai lalu dilupakan terus....

Akhirnya bila tiba masa yang dijanjikan, kita hanya mampu menyesal. Kenapalah kita tidak bertindak awal-awal lagi untuk cukup bersedia menghadapinya. Kenapa kita lambat bertindak...kenapa...kenapa..dan kenapa???

Itulah manusia. Suka bertangguh dan berlengah sedang akhir kehidupan itu bila-bila masa sahaja boleh datang menjengah. Hayat bateri kereta saya sudah berakhir, hayat saya pula bila-bila masa Tuhan boleh akhiri.

**********

Dua tiga minggu ini sibuk masyarakat berbicara tentang kiamat. Bermula dengan banjir yang berlaku di negeri-negeri pantai timur hinggalah kepada fenomena turunnya salji di Mesir dan Vietnam. 

Orang ramai jadi bimbang dan risau. Banyaklah perkongsian artikel dan nota pendek berkaitan di laman-laman sosial. Tapi yang menjadi persoalan adakah kita mengambil iktibar atas apa yang berlaku lalu kita berubah atau mungkin bersedia menghadapi kemungkinan itu?

Mungkin ada dan mungkin juga tiada langsung.

Ketahuilah, bahawa sebenarnya tanda-tanda kiamat sudah lama bermula (tanda-tanda kecil). Tapi kita masih seperti sebelum-sebelumnya. Sama tanpa ada beza yang ketara.
 
Tanda-tanda akhir zaman cukup banyak untuk kita renung dan nilaikan sebenarnya. Tinggal kita mahu atau tidak untuk bersedia. Bahkan kita ini memang dinamakan umat akhir zaman, jadi tak perlulah kita kecoh dengan kiamat berlaku bila dan sebagainya. 

Kiamat itu pasti, tiada keraguan padanya.

Tapi bila berlakunya itu terserah pada Allah. Hatta Rasul pun tidak tahu bila ia bakal berlaku. Sebagai hamba Allah, kita bersiaplah dengan sebaik mungkin agar tidak menyesal bila waktunya tiba.

Ada lagi perlu kita ingat, percaya kepada hari kiamat itu adalah salah satu daripada rukum Iman!

*********

Baru-baru ini negeri-negeri pantai timur dilanda banjir yang cukup hebat. Antara kawasan yang paling teruk adalah Kuantan. Saya sendiri yang tinggal di Kuantan ini  bernasib baik kerana kawasan rumah jauh dari tempat berlakunya bencana banjir.

Bagaimanapun, bahang bencana itu tetap dirasai oleh kami sekeluarga.

Jalan-jalan tidak boleh dilalui. Hujan yang mencurah dengan sangat lebat selama dua-tiga hari. Langit yang terus gelap. Tiada elektrik, tiada air. Orang ramai berpusu-pusu membeli keperluan di kedai-kedai dan pasaraya hingga beberapa jenis barang keperluan seperti telur dan roti habis.

Semua orang kecoh. 

Itu baru kisah saya. Belum lagi kisah rakan-rakan yang berada di tempat bencana. Contohnya rakan saya yang tinggal di kawasan paling teruk terjejas, Sungai Isap menceritakan saat-saat getir dia dan keluarganya ketika bencana berlaku.

Katanya keadaan kucar kacir. Orang ramai seolah-olah hilang arah. 

Macam nak kiamat!

Air naik terlalu cepat. Dalam masa satu jam sahaja terus menghampiri paras pinggang. 

Dia yang memiliki tiga orang anak yang semuanya masih kecil (paling kecil berumur 2 atau 3 bulan sahaja) perlu berfikir panjang untuk bergerak ke pusat pemindahan. Air semakin naik. Untuk berjalan meranduk air bimbang anak-anaknya terjatuh ke dalam longkang dan sebagainya. Lagi-lagi ketika itu waktu tengah malam, gelap.

Mujur ada jiran yang sudi membantu. Dibawanya rakan saya itu sekeluarga ke tempat yang selamat menaiki kenderaan yang mampu mengharung air.

Cerita belum habis lagi...

Di pusat pemindahan keadaan lebih teruk. Mereka dikepung oleh air. Bantuan tidak dapat sampai dengan kadar yang segera. Makanan tiada, air bersih tiada. 

Ada orang-orang tua, ada ibu yang masih dalam pantang, ada bayi dan anak-anak yang perlu minum susu dan bermacam jenis orang lagi. Semuanya sehelai sepinggang. Duduklah mereka di situ selama tiga hari sebelum bantuan sampai. Itupun ketika makan berebut-rebut kerana tidak cukup untuk semua orang. Tidur beralas kotak - ada juga yang hanya beralas lengan sahaja.

Inilah ujian.

Cukup berat bagi siapa yang merasainya. Saya sungguh rasa terharu dan insaf atas apa yang berlaku. Moga Allah beri kekuatan kepada mereka semua untuk berhadapan dengan ujian ini.

Benarlah apa yang disebut oleh Nabi di dalam hadis baginda:

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasullullah s.a.w. bersabda:

"Orang Mukmin sama ada lelaki ataupun perempuan akan sentiasa diuji oleh Allah, samada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehinggalah dia menghadap Allah tanpa dia membawa sedikit dosa pun."

Moga dosa-dosa mangsa bencana banjir baru-baru ini diampun Allah dengan ujian berat menimpa mereka.

Satu lagi peringatan tentang ujian ini, sebagaimana disebut Allah dalam surah al-Ankabut ayat 2-3 bermaksud:

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Mudah-mudahan setiap daripada kita yang diuji Allah bakal ditambah keimanan masing-masing. Sungguh, apa pun bentuk ujian sangatlah perit namun ada janji-janji yang baik lagi manis yang Allah janjikan pada kita. Moga bertabah!

*************

Tahun ini saya telah mencipta rekod peribadi!

Satu aksara pun tidak saya coretkan di laman ini. Entahlah, kesibukan (ujian masa, kerja, keluarga dan bagai-bagai lagi) sedikit menggugat upaya saya untuk menulis  di sini. Bukan tidak menulis langsung, saya tetap menulis tetapi di tempat lain (atas white board, atas kertas kosong, atas meja, di wall facebook, wassaps dan banyak lagi..huhu)...

Tapi apabila difikir-fikirkan, saya tidak boleh melupakan terus laman ini. Jadi pagi tadi, setelah diperam hampir beberapa bulan akhirnya meletus juga keinginan untuk mencoret itu!

Tahniah pada diri sendiri!

Sukar sungguh untuk memecah tempoh yang menghalang keinginan menulis ini rupanya.

Satu lagi rekod yang saya pun tidak sangka mampu untuk dilakukan adalah tahun ini saya berjaya mencapai target yang saya coret dalam artikel penghujung bulan 12 lalu. Saya meletak sasaran untuk menulis dan menerbitkan tiga buah buku pada tahun ini. 

Alhamdulillah, ketiga-tiga buku itu berjaya saya siapkan dan sudah pun dijual di kedai-kedai buku seluruh Malaysia. Sebuah buku saya hasilkan sendiri dan dua buah lagi saya berkerjasama dengan beberapa orang rakan.

Apapun terima kasih diucapkan kepada pihak penerbit, Must Read Sdn Bhd kerana sudi mempelawa saya menulis di bawah naungan syarikat mereka dan berterusan memberi sokongan dan galakkan. Terima kasih. Moga Allah membalas apa yang kalian usahakan ini dengan balasan yang sangat mulia.

********

Hanya tinggal beberapa hari sahaja lagi untuk kita melangkah ke tahun 2014. Bagaimana rupa, keadaan dan suasana tahun hadapan itu adalah di luar pengetahuan kita. Yang boleh kita lakukan berdoa pada Allah agar semuanya baik-baik belaka dan kita dapat mencapai segala rancangan, sasaran mahupun apa sahaja dengan jayanya, Insha Allah.



Isnin, Disember 17, 2012

Menghampiri Sasaran!




        Dalam hidup ini jika tiada cita-cita dan impian, tidak bermakna. Hidup hanya mendatar sahaja. Tiada apa yang hendak dikejar. Sekadar hidup dengan meneruskan rutin yang sama. Diulang sehingga tua. Apa nikmatnya?

        Hidup perlu ada harapan. Perlu ada cita-cita yang bermakna, barulah seronok. Apatah lagi jika apa yang kita harap dan impikan itu tercapai. Lagilah bertambah gembira dan bahagianya. Itu yang pertama. Perkara kedua yang penting juga adalah semangat.

          Semangat untuk merealisasi cita-cita yang diimpi. Jika impiannya ada tapi tiada usaha yang bersungguh untuk mencapainya tiada gunanya juga. Jadi dua perkara ini saling bergandingan. Sama-sama mendorong kita menjadikan hidup ini sebuah perjalanan bermakna.

        Dua, tiga tahun lalu saya juga membina impian. Mahu menjadikan hidup ini bukan sekadar untuk 'hidup'. Saya mahu nikmati masa singkat di dunia ini. 

       Lalu saya pun mula mewujudkan laman ini-dengan izin Allah jua. Bagi saya ini adalah papan yang tercatat perjalanan menggapai impian saya. Ini bukti untuk saya. Untuk zuriat keturunan saya. Biar mereka tahu beginilah cara menikmati kehidupan yang sebenar - dengan membina impian dan harapan.

           Saya mahu menjadi penulis! 

        Itu kalimah yang tertanam di hati sejak perkataan pertama saya tulis di atas laman ini. Itupun setelah entah bagaimana si Hilal Asyraf mendorong secara tidak sedar. Kebetulan Allah temukan kami di bumi Anbia Jordan (mungkin dia tidak ingat pun, tapi ini hakikat-saya bukan bermaksud menumpang glamour ya).

      Terinspirasi daripada lamannya yang awal ketika itu. Saya dengan tiada kemahiran menulis cuma bergantung kepada minat dan impian untuk meneruskan hasrat. Akhirnya baru saya tahu yang menulis itu seronok. Yang sebetulnya penuh nikmat!

       Saya belajar untuk meletakkan idea menjadi penulis itu dalam catatan impian yang harus saya kejar sehabisnya.

         Akhirnya, di tahun akhir pengajian saya dipelawa untuk menulis sebuah buku. Rezeki yang sehebat itu mana mungkin saya menolaknya. Saya berusaha sedaya upaya untuk memastikan buku itu terbit. Ini juga bagi memenuhi impian kedua ketika hadir ke Pesta Buku Kuala Lumpur tahun 2009. Saya tertanya-tanya bilalah agaknya buku saya akan dipamerkan di rak di sana.

         Akhirnya tahun 2010 ia terlaksana. Dan di tahun 2011 saya hadir ke Pesta Buku KL dengan senyum lebar hingga ke telinga. Wah! Buku aku!

        Walau tidak selaku mana, yang penting ia ada di atas rak pameran Karangkraf - terima kasih kepada pihak Buku Prima Sdn Bhd.

     Tiada siapa tahu kecuali anda yang membaca ini, bahawa saya dari pagi hingga ke petang berada berhampiran rak tersebut. Sangat teruja dengan hasil pertama itu. Berpura membelek buku namun hakikatnya memerhati siapalah yang membeli buku tulisan saya itu.

       Walau pembelinya boleh dikira dengan jari, saya puas! 

      Itu yang pertama, kegagalan adalah biasa. Kalau dibanding dengan orang lain, sekurang-kurangnya saya ada juga menerbitkan buku -walau tidak laku mana.

    Hasil daripada cubaan pertama itu, saya meletakkan sasaran, saya akan tulis dan terbitkan dua buku setahun!

      Wah! Ini sudah lebih. Tidak mengapa, kerana memang untuk jadi hebat dan berjaya kita perlu cabar diri sendiri. Itu sasaran tahun 2011. Namun malang sekali ia tersasar sedikit jauh. Apa pun saya sudah usaha. Saya hadir ke kursus penulisan Galeri Ilmu Sdn Bhd. Ditawarkan untuk menulis dan buku diterbitkan mereka. Namun idea seolah tersekat kuat di dalam jaluran otak. Berkisar di dalam kepala sahaja. Tidak dapat diterjemahkan. Peluang terlepas begitu sahaja.

      Tahun 2012 masuk menjengah. Saya perbaiki sasaran. Kali ini 3 buah buku! 

    Wow! Kamu kuat berangan Firdaus!- jerkah kata hati. Saya peduli apa, kerana untuk memaknakan hidup, perlu ada impian dan cita.

      Hujung tahun ini, saya hadir pula ke kursus penulisan Must Read Sdn Bhd. Masih mahu mencuba nasib. Tidak sangka laman ini juga menjadi perantaranya. Mereka suka dengan beberapa artikel yang saya tulis. Saya hadir. 

     Natijahnya, dua proposal buku diluluskan untuk diterbitkan. Cuma perlu menghantar manuskrip yang saya SASARKAN salah satunya berjaya saya siapkan penghujung bulan 12 ini. Ketika orang sibuk dengan tarikh kiamat andaian Kaum Maya itu, saya sibuk merangka sasaran baru tahun 2013.

       Biarlah orang di barat sibuk menggali lubang untuk menyorok. Itu cara mereka menghadapi kiamat. Kita yang Islam ini teruskan kebaikan yang ingin dibuat. Nabi SAW pun pesan yang maksudnya, jika ada biji benih di tangan dan kiamat datang sekali pun tanam benih itu. Begitulah apa yang saya mahukan. Sebab kiamat itu pasti.

     Di tahun baru 2013, sasaran makin hampir. Walau tidak 3 atau 4 buah buku saya terbit, sekurang-kurangnya 2 buah berjaya saya langsaikan.

       Dan petang tadi saya menerima email daripada Must Read Sdn Bhd. Kata salah seorang orang kuatnya, ada tajuk buku yang hendak dibincang dengan saya. Mungkinkah tahun depan 3 buah buku saya berada di pasaran??

       Jangan takut mencabar diri!

      Wahai Tuhan, bantulah aku memanah tepat ke sasaran!