Memaparkan catatan dengan label Renungan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Renungan. Papar semua catatan

Jumaat, April 17, 2020

Apakah Amal Paling Baik?


Amal paling baik dan disukai Rasullullah (selawat) adalah sikit tapi berkekalan.
Kalau kita mampu tiap malam baca surah 3 qul..bacalah
Andai biasa selawat 10 kali, selawatlah.
Boleh tasbih 100 kali, tasbihlah..1000 kebaikan ganjarannya.
Mampu baca mathurat pagi dan petang, bacalah. Mampu pagi teruskan pagi sahaja.
Biarlah kecil, sedikit dari langsung tiada. Mudahan jadi saham berprofit tinggi.
Orang bisnes bagus mula niaga dengan modal apa yang mampu dan ada di tangan. Begitu juga modal baik, mula dengan apa yang mampu dan berkekalan.

Isnin, Disember 28, 2015

SAKIT

Adab Ketika Sakit

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat hikmah dan keadilan-Nya menimpakan berbagai ujian dan cobaan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada khususnya, dan seluruh makhluk pada umumnya.

Di antara bentuk ujian dan cobaan itu adalah adanya berbagai jenis penyakit di zaman ini, karena kemaksiatan dan kedurhakaan umat terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Islam adalah agama yang sempurna, yang menuntut seorang muslim agar tetap menjaga keimanannya dan status dirinya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang muslim akan memandang berbagai penyakit itu sebagai:

1. Ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini: “Kami menguji kalian, terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Maka Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur (terhadap nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala), siapa yang sabar dan siapa yang putus asa (dari rahmat-Nya). Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: ‘Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, maksudnya yaitu dengan kesempitan dan kelapangan hidup, dengan kesehatan dan sakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan kemaksiatan, dengan petunjuk dan kesesatan; kemudian Kami akan membalas amalan-amalan kalian’.”

Ujian dan cobaan akan datang silih berganti hingga datangnya kematian.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (Al-Baqarah: 214)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “(Ujian yang akan datang adalah) berbagai penyakit, sakit, musibah, dan cobaan-cobaan lainnya.”

Bila demikian, maka sikap seorang muslim tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah senantiasa berusaha sabar, ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, terus-menerus memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tidak marah dan murka terhadap taqdir yang menimpa dirinya, tidak pula putus asa dari rahmat-Nya.

2. Penghapus dosa.

Seandainya setiap dosa dan kesalahan yang kita lakukan mesti dibalas tanpa ada maghfirah (ampunan)-Nya ataupun penghapus dosa yang lain, maka siapakah di antara kita yang selamat dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sehingga, termasuk hikmah dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia menjadikan berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa kita.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu:

a. mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).

b. lupa (akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala), maka akan sesaklah dadanya sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari penjelasan ini, ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa musibah: beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan mendapatkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala karena dia marah dan tidak sabar atas taqdir tersebut.”

3. Kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang banyak dilupakan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang terlupa darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Betapa banyak orang yang menyadari keberadaan nikmat kesehatan ini, setelah dia jatuh sakit. Sehingga musibah sakit ini menjadi peringatan yang berharga baginya. Setelah itu dia banyak bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Itulah golongan yang beruntung.

Adab-adab Syar’i ketika Sakit

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berbaik sangka kepada-Nya.

Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِذَا أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

“Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak bertentangan dengan syariat.

Diriwayatkan dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan sanad hadits ini hasan. Lihat Ash-Shahihah no. 1633)

Juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Di antara bentuk pengobatan yang sunnah adalah:

a. Madu dan berbekam

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: شُرْبَةِ عَسَلٍ، وَشِرْطَةِ مُحَجِّمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى عَنِ الْكَيِّ –وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِي

“Obat itu ada pada tiga hal: minum madu, goresan bekam, dan kay1 dengan api, namun aku melarang kay.” (HR. Al-Bukhari) 1 Besi dibakar, lalu ditempelkan pada urat yang sakit.

Dalam riwayat lain: “Aku tidak senang berobat dengan kay.”

b. Al-Habbatus sauda` (jintan hitam)

Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَ السَّامَ

“Al-Habbatus Sauda` (jintan hitam) adalah obat untuk segala penyakit, kecuali kematian.” (HR. Ath-Thabarani. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu bahwa sanadnya hasan, dan hadits ini punya banyak syawahid/pendukung)

c. Kurma ‘ajwah

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ أَوَّلُ الْبُكْرَةِ عَلىَ رِيْقِ النَّفَسِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سِحْرٍ أَوْ سُمٍّ

“Pada kurma ‘ajwah ‘Aliyah yang dimakan pada awal pagi (sebelum makan yang lain) adalah obat bagi semua sihir atau racun.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini sanadnya jayyid (bagus). Lihat Ash-Shahihah no. 2000)

d. Ruqyah

Yaitu membacakan surat atau ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan, kepada orang yang sakit. Bisa dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsirnya berkata: “Al-Qur`an itu mengandung syifa` (obat) dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak berlaku untuk setiap orang, hanya bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Qur`an tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. Dan dengan Al-Qur`an berarti telah tegak hujjah atas mereka.”

Obat (syifa`) yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum. Bagi hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek. Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan penyakit.

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُ فِي جَسَدِهِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَعْ يَدَكَ عَلىَ الَّذِي يَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ -ثَلَاثًا-؛ وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dia mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rasa sakit yang ada pada dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Letakkanlah tanganmu di atas tempat yang sakit dari tubuhmu, lalu bacalah: بِسْمِ اللهِ (tiga kali), kemudian bacalah tujuh kali:

أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

‘Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejelekan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan’.” (HR. Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Atau berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik, atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari Islam. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ وَقَدْ جَاءَ اللهُ تَعَالَى بِالْإِسْلاَمِ وَمِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ: فَلاَ تَأْتِهِمْ

“Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (HR. Muslim)

Dari Shafiyyah bintu Abi ‘Ubaid, dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَصَدَّقَهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)

3. Bila sakitnya bertambah parah atau tidak kunjung sembuh, tidak diperbolehkan mengharapkan kematian.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

“Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang harus melakukannya, maka hendaknya dia berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْراً لِي

‘Ya Allah, hidupkanlah aku bila kehidupan itu adalah kebaikan bagiku dan wafatkanlah aku bila kematian itu adalah kebaikan bagiku’.” (Muttafaqun ‘alaih)

4. Apabila dirinya mempunyai kewajiban (seperti hutang, pinjaman, dll), atau amanah yang belum dia tunaikan, atau kezaliman terhadap hak orang lain yang dia lakukan, hendaknya dia bersegera menyelesaikannya dengan yang bersangkutan, bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan, karena jauh tempatnya, atau belum ada kemampuan, atau sebab lainnya, hendaknya dia berwasiat (kepada ahli warisnya) dalam perkara tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: 8)

Dari Abu Huraiah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِيْنَارٌ وَدِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa berbuat kezaliman terhadap saudaranya, baik pada harga dirinya atau sesuatu yang lain, hendaknya dia minta agar saudaranya itu menghalalkannya (memaafkannya) pada hari ini, sebelum (datangnya hari) yang tidak ada dinar maupun dirham. Apabila dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya (lalu diberikan kepada yang dizaliminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan-kebaikan, akan diambil dari kejelekan orang yang dizalimi lalu dipikulkan kepadanya.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ: ماَ أُرَانِي إِلاَّ مَقْتُولاً فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لاَ أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِإِخْوَتِكَ خَيْرًا. فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ

“Sebelum terjadi perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam harinya. Dia berkata: ‘Tidak aku kira kecuali aku akan terbunuh pada golongan yang pertama terbunuh di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya aku tidak meninggalkan setelahku orang yang lebih mulia darimu, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya aku mempunyai hutang maka tunaikanlah. Nasihatilah saudara-saudaramu dengan baik.’ Tatkala masuk pagi hari, dia termasuk orang yang pertama terbunuh.” (HR. Al-Bukhari)

5. Disyariatkan segera menulis wasiat dengan saksi dua orang lelaki muslim yang adil. Bila tidak didapatkan karena safar, boleh dengan saksi dua orang ahli kitab yang adil.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian.” (Al-Ma`idah: 106)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata:

مَا حَقَّ امْرُؤٌ مُسْلِمٌ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ وَلَهُ شَيْءٌ يُرِيدُ أَنْ يُوصِيَ فِيهِ إِلاَّ وَوَصَّيْتُهُ عِنْدَ رَأْسِهِ. وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلاَّ وَعِنْدِي وَصِيَّتِي

“Tidak berhak seorang muslim melalui dua malam dalam keadaan dia memiliki sesuatu yang ingin dia wasiatkan kecuali wasiatnya berada di sisinya.”

Dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Tidaklah berlalu atasku satu malam pun semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian, kecuali di sisiku ada wasiatku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Abdil Bar rahimahullahu berkata (At-Tamhid, 14/292): “Para ulama bersepakat bahwa wasiat itu bukan wajib, kecuali bagi orang yang memiliki tanggungan-tanggungan yang tanpa bukti, atau dia memiliki amanah yang tanpa saksi. Apabila demikian, dia wajib berwasiat. Tidak boleh dia melalui dua malam pun kecuali sungguh telah mempersaksikan hal itu.

Diperbolehkan baginya mewasiatkan sebagian harta yang ditinggalkan, maksimal sepertiganya. Tidak boleh lebih dari itu. Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku senang bahwa orang mengurangi dari jumlah 1/3 menjadi ¼ dalam hal wasiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sepertiga itu banyak’.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi)

Wasiat tersebut tidak boleh untuk ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, kecuali dengan kerelaan dari seluruh ahli waris lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa`)

Ibnu Mundzir rahimahullahu berkata (Al-Ijma’ hal. 100): “Para ulama sepakat bahwa tidak ada wasiat untuk ahli waris kecuali para ahli waris (yang lain) memperbolehkannya.”

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/471): “Ketika wasiat itu adalah rekayasa dan jalan untuk memberi tambahan kepada sebagian ahli waris, serta mengurangi dari sebagian mereka, maka wasiat itu haram hukumnya, berdasarkan ijma’ dan dengan Al-Qur`an:

غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

“(Wasiat itu) tidak memberi mudarat (kepada sebagian pihak). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (An-Nisa`: 12)

Adapun wasiat yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wasiat tersebut batil dan tidak boleh dilaksanakan. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru pada urusan (agama) ku ini apa yang tidak berasal darinya, maka hal itu tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Berwasiat agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata (Ahkamul Jana`iz, hal. 17-18): “Ketika adat kebiasaan yang dilakukan mayoritas kaum muslimin pada masa ini adalah bid’ah dalam urusan agama, lebih-lebih dalam masalah jenazah, maka termasuk perkara yang wajib adalah seorang muslim berwasiat (kepada ahli warisnya) agar jenazahnya diurus dan dikuburkan sesuai As-Sunnah, untuk mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(Qs At-Tahrim: 6. )

Oleh karena itulah, para sahabat radhiyallahu ‘anhum mewasiatkan hal tersebut. Atsar-atsar dari mereka (dalam hal ini) banyak sekali. Di antaranya:

a. Dari Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa ayahnya (yakni Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu) berkata ketika sakit yang mengantarkan kepada wafatnya:

أَلْحِدُوا لِي لَحْدًا وَانْصِبُوا عَلَيَّ نَصْبًا اللَّبِنَ كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللهِ n

“Buatlah liang lahat untukku, dan tegakkanlah atasku bata sebagaimana dilakukan demikian kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

b. Dari Abu Burdah dia berkata: Abu Musa radhiyallahu ‘anhu mewasiatkan ketika hendak meninggal: “Apabila kalian berangkat membawa jenazahku maka cepatlah dalam berjalan. Jangan mengikutkan (jenazahku) dengan bara api. Sungguh jangan kalian membuat sesuatu yang akan menghalangiku dengan tanah. Janganlah membuat bangunan di atas kuburku. Aku mempersaksikan kepada kalian dari al-haliqah (wanita yang mencukur gundul rambutnya karena tertimpa musibah), as-saliqah (wanita yang menjerit karena tertimpa musibah), dan al-khariqah (wanita yang merobek-robek pakaiannya karena tertimpa musibah).” Mereka bertanya: “Apakah engkau mendengar sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu?” Dia menjawab: “Ya, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Ahmad 4/397, Al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah, sanadnya hasan)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam Al-Adzkar: “Disunnahkan baginya dengan kuat untuk mewasiatkan kepada mereka (ahli waris) untuk menjauhi adat kebiasaan yang berupa bid’ah dalam pengurusan jenazah. Dan dikuatkan perkara tersebut (dengan wasiat).”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.asysyariah.com dinukil dari http://www.darussalaf.or.id Penulis: Al-Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan Judul: Adab Ketika Sakit

Jumaat, November 27, 2015

Kuasa Doa


Dalam banyak hal, kita sering takut, bimbang, risau dan tidak tenteram. Lebih-lebih lagi dalam membuat persediaan untuk suatu perkara yang besar dan bermakna dalam hidup. 

Satu benda yang tidak boleh kita nafikan adalah bertapa berkuasanya doa pada kita dalam menghadapi saat-saat sebegini dalam hidup. Doa tu kan senjata bagi orang Islam. Jadi, berdoalah memohon kemudahan dan perlindungan dari Allah swt.

Amalan berdoa ini amat disukai Allah swt. Perkara ini jelas disebut dalam al-Quran yang mafhumnya jika kita berdoa pada Allah pasti Allah akan memakbulkan permintaan kita itu.

Begitu juga Nabi kita Muhammad saw menganjurkan kepada kita untuk berdoa, antaranya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah) - 

“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)

Oleh itu dalam apa keadaan pun, panjatkanlah doa kepada yang Esa. Sandarkan harapan pada kuasaNya. Mudah-mudahan Allah beri kita ampunan dan membantu kita dalam setiap keadaan.

Antara lain, admin ingin kongsikan doa yang boleh kita amalkan bagi dimudahkan urusan. Mudah-mudahan, dengan izinnya dimakbulkan.

Image result for doa dipermudahkan segala urusan


Aku Dan Al-Quran 1


Semalam, selepas waktu kerja saya sempat menemani seorang rakan 'mengeteh' di sebuah gerai. Topik perbualan awalnya biasa sahaja, tentang kerja dan keluarga. Tiba-tiba saya terlintas untuk berntanyakan soalan kepadanya.

'Macam mana ye kita nak jadi pandai? Maksudnya nak jadi orang yang berilmu, hebat macam para ulama' dulu? Kadang-kadang aku rasa bodoh sangat. Banyak benda yang tak tahu. Bila nak kaji, membaca tak tahu nak mula mana.'

Sambil meneguk air dari cawan, rakan saya itu senyum menjawab tapi dalam bentuk persoalan yang dipulangkan kepada saya, 'Berapa kali dah khatam quran?'

'Erk.. Kenapa pula? Tanya pendapat, dia tanya semula soalan kat kita' saya jawab dalam bingung.

'Itulah sebenarnya silap kita ni. Kita selalu lupa pada al-Quran. Sedangkan gedung segala ilmu itu adalah al-Quran. Baca al-Quran, hayati isi kandungannya, amalkan dan hafaz. InshaAllah selesai soalan kau tu.'

Dia tambah lagi, 'Cuba kau kaji para ulama' dulu, benda apa yang mula-mula mereka belajar?'

'Al-Quran..' saya jawab sambil tersengih macam kerang busuk.

'Itu lah kuncinya. Kunci segala ilmu yang ada di dunia ni ada pada Al-Quran tu. Ni kita nak baca pun malas. Seminggu berapa kali je kita buka al-Quran. Nak faham makna, lagilah jauh. Sedangkan mereka menghafaz al-Quran tu, tanam, pasak dalam ingatan, dalam hati mereka. Sebab tu mereka ni power!

Haaa..ambik kau!

Jawapan tu buat saya diam, pergi kaunter bayar duit..balik..

Insaf kejap..

Khamis, Disember 19, 2013

Ujian, Kiamat Dan Rekod

Malam semalam kereta saya tidak boleh dihidupkan! Berkali-kali saya cuba memulas kunci, namun hanya sia-sia. Perkara ini sebenarnya sudah dijangka. Sejak sebulan dua ini memang kereta saya sukar dihidupkan. 

Masalah ini tidak lain berpunca daripada bateri yang sudah melebihi jangka hayatnya yang biasa. Namun, saya biarkan dan tangguhkan sahaja masalah itu tanpa diselesaikan segera. Inilah akibatnya. Padan muka!

Segera saya mencari jumper yang dirasakan ada dalam kereta. Cari punya cari baru teringat, jumper itu ada pada rakan saya, dia terlupa untuk pulangkan semula setelah dipinjam sebulan lalu.

Nah! Kalut dibuatnya. Sekarang timpul penyesalan yang amat sangat, kenapa saya tidak segera menukar bateri setelah mengalami beberapa ratus kali keadaan sukar menghidupkan enjin kereta. Kenapa saya tidak meminta semula jumper dari rakan saya untuk persediaan keadaan sebegini?

Tapi nak menyesal pun sudah tidak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Redha sahajalah. Mujur bapa saudara saya tinggal berhampiran tempat kejadian dan datang membantu dengan segera.

Pagi ini, ketika ralit memerhati bateri kereta saya ditukar, saya terfikirkan sesuatu:

Benarlah mati itu tidak menunggu waktu, ketika dan tempat. Tanda-tandanya sudah ada, namun dek terpesona dengan kehidupan seharian, kita biarkan sahaja tanda-tanda itu tanpa bersedia menghadapinya. Dibiar, diabai lalu dilupakan terus....

Akhirnya bila tiba masa yang dijanjikan, kita hanya mampu menyesal. Kenapalah kita tidak bertindak awal-awal lagi untuk cukup bersedia menghadapinya. Kenapa kita lambat bertindak...kenapa...kenapa..dan kenapa???

Itulah manusia. Suka bertangguh dan berlengah sedang akhir kehidupan itu bila-bila masa sahaja boleh datang menjengah. Hayat bateri kereta saya sudah berakhir, hayat saya pula bila-bila masa Tuhan boleh akhiri.

**********

Dua tiga minggu ini sibuk masyarakat berbicara tentang kiamat. Bermula dengan banjir yang berlaku di negeri-negeri pantai timur hinggalah kepada fenomena turunnya salji di Mesir dan Vietnam. 

Orang ramai jadi bimbang dan risau. Banyaklah perkongsian artikel dan nota pendek berkaitan di laman-laman sosial. Tapi yang menjadi persoalan adakah kita mengambil iktibar atas apa yang berlaku lalu kita berubah atau mungkin bersedia menghadapi kemungkinan itu?

Mungkin ada dan mungkin juga tiada langsung.

Ketahuilah, bahawa sebenarnya tanda-tanda kiamat sudah lama bermula (tanda-tanda kecil). Tapi kita masih seperti sebelum-sebelumnya. Sama tanpa ada beza yang ketara.
 
Tanda-tanda akhir zaman cukup banyak untuk kita renung dan nilaikan sebenarnya. Tinggal kita mahu atau tidak untuk bersedia. Bahkan kita ini memang dinamakan umat akhir zaman, jadi tak perlulah kita kecoh dengan kiamat berlaku bila dan sebagainya. 

Kiamat itu pasti, tiada keraguan padanya.

Tapi bila berlakunya itu terserah pada Allah. Hatta Rasul pun tidak tahu bila ia bakal berlaku. Sebagai hamba Allah, kita bersiaplah dengan sebaik mungkin agar tidak menyesal bila waktunya tiba.

Ada lagi perlu kita ingat, percaya kepada hari kiamat itu adalah salah satu daripada rukum Iman!

*********

Baru-baru ini negeri-negeri pantai timur dilanda banjir yang cukup hebat. Antara kawasan yang paling teruk adalah Kuantan. Saya sendiri yang tinggal di Kuantan ini  bernasib baik kerana kawasan rumah jauh dari tempat berlakunya bencana banjir.

Bagaimanapun, bahang bencana itu tetap dirasai oleh kami sekeluarga.

Jalan-jalan tidak boleh dilalui. Hujan yang mencurah dengan sangat lebat selama dua-tiga hari. Langit yang terus gelap. Tiada elektrik, tiada air. Orang ramai berpusu-pusu membeli keperluan di kedai-kedai dan pasaraya hingga beberapa jenis barang keperluan seperti telur dan roti habis.

Semua orang kecoh. 

Itu baru kisah saya. Belum lagi kisah rakan-rakan yang berada di tempat bencana. Contohnya rakan saya yang tinggal di kawasan paling teruk terjejas, Sungai Isap menceritakan saat-saat getir dia dan keluarganya ketika bencana berlaku.

Katanya keadaan kucar kacir. Orang ramai seolah-olah hilang arah. 

Macam nak kiamat!

Air naik terlalu cepat. Dalam masa satu jam sahaja terus menghampiri paras pinggang. 

Dia yang memiliki tiga orang anak yang semuanya masih kecil (paling kecil berumur 2 atau 3 bulan sahaja) perlu berfikir panjang untuk bergerak ke pusat pemindahan. Air semakin naik. Untuk berjalan meranduk air bimbang anak-anaknya terjatuh ke dalam longkang dan sebagainya. Lagi-lagi ketika itu waktu tengah malam, gelap.

Mujur ada jiran yang sudi membantu. Dibawanya rakan saya itu sekeluarga ke tempat yang selamat menaiki kenderaan yang mampu mengharung air.

Cerita belum habis lagi...

Di pusat pemindahan keadaan lebih teruk. Mereka dikepung oleh air. Bantuan tidak dapat sampai dengan kadar yang segera. Makanan tiada, air bersih tiada. 

Ada orang-orang tua, ada ibu yang masih dalam pantang, ada bayi dan anak-anak yang perlu minum susu dan bermacam jenis orang lagi. Semuanya sehelai sepinggang. Duduklah mereka di situ selama tiga hari sebelum bantuan sampai. Itupun ketika makan berebut-rebut kerana tidak cukup untuk semua orang. Tidur beralas kotak - ada juga yang hanya beralas lengan sahaja.

Inilah ujian.

Cukup berat bagi siapa yang merasainya. Saya sungguh rasa terharu dan insaf atas apa yang berlaku. Moga Allah beri kekuatan kepada mereka semua untuk berhadapan dengan ujian ini.

Benarlah apa yang disebut oleh Nabi di dalam hadis baginda:

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. katanya, Rasullullah s.a.w. bersabda:

"Orang Mukmin sama ada lelaki ataupun perempuan akan sentiasa diuji oleh Allah, samada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehinggalah dia menghadap Allah tanpa dia membawa sedikit dosa pun."

Moga dosa-dosa mangsa bencana banjir baru-baru ini diampun Allah dengan ujian berat menimpa mereka.

Satu lagi peringatan tentang ujian ini, sebagaimana disebut Allah dalam surah al-Ankabut ayat 2-3 bermaksud:

"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Mudah-mudahan setiap daripada kita yang diuji Allah bakal ditambah keimanan masing-masing. Sungguh, apa pun bentuk ujian sangatlah perit namun ada janji-janji yang baik lagi manis yang Allah janjikan pada kita. Moga bertabah!

*************

Tahun ini saya telah mencipta rekod peribadi!

Satu aksara pun tidak saya coretkan di laman ini. Entahlah, kesibukan (ujian masa, kerja, keluarga dan bagai-bagai lagi) sedikit menggugat upaya saya untuk menulis  di sini. Bukan tidak menulis langsung, saya tetap menulis tetapi di tempat lain (atas white board, atas kertas kosong, atas meja, di wall facebook, wassaps dan banyak lagi..huhu)...

Tapi apabila difikir-fikirkan, saya tidak boleh melupakan terus laman ini. Jadi pagi tadi, setelah diperam hampir beberapa bulan akhirnya meletus juga keinginan untuk mencoret itu!

Tahniah pada diri sendiri!

Sukar sungguh untuk memecah tempoh yang menghalang keinginan menulis ini rupanya.

Satu lagi rekod yang saya pun tidak sangka mampu untuk dilakukan adalah tahun ini saya berjaya mencapai target yang saya coret dalam artikel penghujung bulan 12 lalu. Saya meletak sasaran untuk menulis dan menerbitkan tiga buah buku pada tahun ini. 

Alhamdulillah, ketiga-tiga buku itu berjaya saya siapkan dan sudah pun dijual di kedai-kedai buku seluruh Malaysia. Sebuah buku saya hasilkan sendiri dan dua buah lagi saya berkerjasama dengan beberapa orang rakan.

Apapun terima kasih diucapkan kepada pihak penerbit, Must Read Sdn Bhd kerana sudi mempelawa saya menulis di bawah naungan syarikat mereka dan berterusan memberi sokongan dan galakkan. Terima kasih. Moga Allah membalas apa yang kalian usahakan ini dengan balasan yang sangat mulia.

********

Hanya tinggal beberapa hari sahaja lagi untuk kita melangkah ke tahun 2014. Bagaimana rupa, keadaan dan suasana tahun hadapan itu adalah di luar pengetahuan kita. Yang boleh kita lakukan berdoa pada Allah agar semuanya baik-baik belaka dan kita dapat mencapai segala rancangan, sasaran mahupun apa sahaja dengan jayanya, Insha Allah.



Khamis, Mac 01, 2012

Kepelbagaian Hati

Rasullullah SAW bersabda :

" Ketahuilah bahawa di dalam jasad itu ada seketul daging, Jika baik daging itu maka baiklah jasad itu seluruhnya. Dan jika rosak daging itu, maka rosaklah jasad itu seluruhnya. Ketahuilah itu adalah hati."

Hati memainkan peranan yang amat besar pada diri seorang anak Adam itu. Ia seumpama raja di dalam diri kita. Jika sesebuah kerajaan itu ada raja atau pemerintah, maka dalam kerajaan diri manusia itu hatilah raja dan pemerintahnya 

Jika baik raja atau pemerintah tersebut dalam pemerintahannya, maka baiklah seluruh kerajaan yang dikuasainya. Aman sentosa serta bahagialah rakyat jelata. 

Tidak jauh beza dengan hati. Jika kerajaan dalam diri manusia itu dikuasai atau diperintah oleh  hati yang baik, yang bersih, natijahnya akan membekas pada tingkah-laku dan peribadi seorang anak Adam itu. Sebaliknya pula jika yang memerintah itu hati yang jahat, kotor, busuk maka natijahnya akan tergambarlah pada diri anak Adam itu keburukan, kehinaan, kebusukan tingkah-laku dan berbagai lagi perkara yang merosakkan.

Jenis-jenis hati

Ulama membahagikan hati kepada 4 keadaan. Keadaan pertama adalah seperti ini :

                                                   
                                                             

Seumpama cawan yang penuh dengan kotoran. Agak-agaknya jika kita tuangkan air mineral ke dalam cawan ini apa akan jadi? Sudah tentu air yang kita tuang itu akan tercemar disebabkan oleh kotoran yang melekat pada cawan tersebut.

Begitu juga hati. Jika ia kotor, apa akan jadi dengan rahmat dan ilmu yang Allah turunkan kepada kita? Sudah pasti ilmu dan rahmat itu akan tercemar dan rosak disebabkan oleh kotornya bekas (hati) yang menadahnya.

Teringat saya satu kisah di mana Imam As-Syafie bertanya kepada gurunya Imam Waqi' tentang kesukarannya untuk menghafaz. Kata gurunya, jauhi maksiat. Sungguh ilmu itu adalah cahaya dan cahaya tidak akan turun ke dalam hati yang terpalik dengan kekotoran maksiat.

Kisah ini menggambarkan kepada kita bahawa hati yang kotor dipenuhi kekotoran itu merupakan hijab penghalang masuknya ilmu dan rahmat Allah SWT.


Keadaan hati yang kedua adalah seumpama ini :

                                                                 


Bentuk hati yang kedua adalah hati yang retak, pecah. Hati jenis ini tidak mendatangkan sedikit pun manfaat pada pemiliknya. Sama seperti cawan pecah juga. Tidak ada manfaat buat tuannya. Isilah air sebanyak-banyaknya. Tuanglah seribu baldi air yang berbagai jenis pun, ia tidak akan dapat menampung air tersebut. Tidak dapat menyimpan lalu kehausanlah tuannya untuk mengambil manfaat dari cawan miliknya.

Hati yang retak pecah begitulah. Selautan pun rahmat dan ilmu Allah diturunkan ke dalamnya ia tidak akan sekali-kali menampung curahan tersebut. Ia tetap akan kembali kosong seperti tidak pernah terisi. Lalu apalah manfaat yang diperoleh tuannya. Kehausanlah ia daripada rahmat, kasih sayang dan ilmu Allah SWT. Jasadnya hidup namun hatinya kosong.

Puaslah ia berdoa, mengharap. Namun setitis pun rahmat Allah itu tidak melekat andai diturunkan. Lalu menjadi sia-sialah kehidupannya. Akhirnya hanyutlah ia dalam hidup dunia yang tidak pernah putus kenikmatannya ini.

Hati jenis yang ketiga seperti ini :

                                                             

Umpama gelas yang bertutup rapat. Agak-agaknya jika dituangkan air ke atasnya apa akan jadi?

Pasti air itu tidak akan dapat masuk walau sedikit pun ke dalamnya. Air akan mencurah-curah tumpah. Hanya menyentuh penutupnya sahaja. Lalu apakah dapat tuannya menghapus dahaga dengannya jika tidak membuka  penutup tersebut.

Begitulah hati dari jenis ini. Hatinya tertutup rapat lagi kemas dari menerima ilmu dan rahmat Allah SWT. Tidak ada manfaat yang diperoleh tuannya. Jika jenis-jenis sebelum ini walau tidak melekat kuat, tetapi masih berjaya masuk dan jika lama-kelamaan dituangkan air, ia akan mampu juka menakung walau seketika.

Adapun jenis hati yang tertutup ini lebih teruk dan mudarat lagi kepada pemiliknya.

"Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang ertinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” 
( HR. At Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban (7/27) dan Ahmad (2/297). At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.)
Sungguh ianya bermula daripada hati yang terpalit dengan kekotoran. Kotor itu jika tidak dicuci akhirnya menutup hati. Andaikan pula sebuah cermin yang berkilat cantik. Dibiarkan lama di kawasan yang berdebu. Lama-kelamaan cermin itu akan pudar lalu akhirnya ia terus gelap,hilang sifatnya untuk memantul cahaya. Jika didatangi pasti seinci pun wajah kita tidak kelihatan.

Yang lebih menakutkan lagi, apa yang kita perbuat sesekali tidak menghilang kotoran yang ada bahkan menutup terus hati kita selama-lamanya. Sedikit pun cahaya, rahmat dan ilmu Allah tidak akan singgah kepada diri kita, nauzubillahi min zaalik. Moga-moga kita dijauhkan daripada hati yang tertutup ini. 

Ini pula gambaran kepada jenis hati yang keempat :

                                                             

Hati ini umpama cawan yang bersih lagi suci. Apa pandangan anda? Jika ditunagkan air, apa yang akan berlaku?

Pasti air itu akan tertuang molek memenuhi cawan tersebut. Kejernihan air juga akan jelas kelihatan. Bukan sahaja ia nampak cantik bersih bahkan dapat menghilangkan kehausan kepada pemiliknya. Manfaatnya sudah pasti memberi seribu tahu kebahagiaan buat pemiliknya.

Inilah hati yang sepatutnya kita miliki. Harta yang seharusnya kita dapatkan. Jernihnya hati ini pasti menarik perhatian tuannya dan orang-orang yang melihatnya. Bahkan penuhi langit pun pasti akan mengaguminya. 

Begitulah jenis-jenis hati manusia ini. 

Kata Saidina Ali RA : " Bekas-bekas (tempat diturunkan ilmu dan rahmat) Allah di dunia ini adalah hati"

Berdasarkan kata-kata ini, bersedihlah kita jika hati kita bukan dari kategori yang terakhir ini. Malanglah bagi kita jika hati kita dari kategori yang pertama, kedua dan ketiga. Sungguh rahmat dan ilmu Allah itu tidak dapat tumpah kepada kita. Lalu berlakulah berbagai-bagai masalah dalam kehidupan.

Sebab itu, jika kita sering mengadu bahawa kita ada masalah itu, ada masalah ini rujuklah kembali kepada keadaan hati kita. Agak-agak bagaimana keadaannya. Sihatkah, sakitkah atau sudah memang tenat dan nazak? 

Memang sakit ini sukar dikesan. Kerana itu ia sering sahaja dipinggirkan. Dan kalau pun seseorang itu tahu akan sakitnya itu, sukar untuk dia menerima rawatan dengan ubat yang amat pahit dan sukar untuk ditelan. Masakan tidak, ubat hati itu adalah setiap perkara yang bertentangan dengan nafsu dan seiiring dengan kehendak Rabb.

Mencuci hati tidak seperti mencuci cawan-cawan yang kotor. Beli sahaja sunlight atau seumpamanya kemudian campurkan air, disapu kemudian bersihlah.

Hati ini memang perlu digilap dan dicuci. Walau bahan-bahan pencucinya nampak mudah untuk dicari dan dibuat namun untuk mengamalkannya dan istiqamah dengannya memerlukan 'rasa juang' yang tinggi.

Sebab itu Rasul SAW pernah menukilkan ketika pulang dari medan peperangan, bahawa mereka baru sahaja pulang daripada peperangan yang kecil. Terkesima  para sahabat. Apakah selama ini peperangan yang disertai mereka hanya peperangan yang kecil sedangkan sudah ramai para sahabat yang terkorban dalam menyertainya.

Lalu ketika ditanya kepada Rasul SAW barulah mereka faham. Yang dimaksudkan perang yang besar itu adalah perang melawan hawa nafsu. Memang, ada orang mungkin gagah fizikalnya, berani, berketul-ketul ototnya namun untuk menahan diri dari makan di bulan puasa pun ia tidak mampu.

Begitu juga ada orang yang nampak hebat dipandangan, kekuatannya tidak dapat ditandingi namun untuk menahan diri daripada kemarahan yang menyala-nyala sedikit pun tidak mampu. 

Ada hadis membicarakan tentang hal ini :

Rasullullah SAW bersabda, " Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah." (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Selepas ini Insyaallah saya akan menulis tentang ubat-ubat hati pula. Bagaimana untuk kita merubah kedudukan kita daripada jenis hati yang pertama, kedua atau ketiga kepada jenis hati yang keempat.

Moga Allah izinkan.




Selasa, Oktober 18, 2011

Keranamu Wanita..



Minggu lepas saya menonton sebuah filem di Tv Al-Hijrah. Cerita Jepun. Namun latar masanya bukan di zaman moden. Ia cerita epik atau bercorak sejarah.  Tajuknya Castle Under The Fairest Skies.

Kisah bermula dengan keinginan raja mahu membina sebuah istana. Dimintanya beberapa tukang yang handal untuk membina beberapa model istana seperti yang diinginkan baginda. Dipendekkan cerita salah seorang tukang handal Jepun terpilih. Dengan model dan alas an pembinaannya yang hebat, dia diakui oleh para pembesar istana sebagai orang yang layak untuk dipertanggungjawabkan. Nyawanya dipertaruhkan. Tempoh masa hanya 3 tahun untuk menyiapkan istana tersebut.

Ia merupakan istana 7 tingkat yang pertama seumpamanya di Jepun. Nyata ia menarik perhatian maharaja yang sombong dan bongkak itu. Dan pastinya pembinaannya memerlukan kerja yang bukan sedikit daripada rakyat marhein. Filem ini mempunyai banyak hikmah yang boleh dijadikan tauladan kepada penonton. Melaluinya saya terpaksa akui kehebatan orang Jepun dalam membentuk masyarakatnya

Saya melihat filem ini dari sisi yang berbeza. Saya suka watak w yang diketengahkan di dalamnya terutama watak isteri si ketua projek pembinaan istana.

Bukan suka kecantikannya, tapi suka akan sikap, sifat dan keperibadiaannya. Memang menggambarkan ciri-ciri wanita timur yang sejati. Wanita yang lemah lembut, penuh kesopanan dan kaya nilai hikmah.

Satu yang amat mengesankan saya adalah salah satu babak yang menunjukkan si tukang istana dan isterinya berbicara dalam keadaan yang agak tegang.

Kerana masalah yang melanda projek pembinaan istana, tukang kayu merasa tertekan. Tekanan yang dihadapinya amat berat untuk dihadapi. Dia balik dengan jiwa yang berserabut. Kepulangannya disambut oleh isteri tercinta yang sentiasa setia menunggu.

Dengan wajah menguntum senyuman, teh dihidang kepada suami yang lelah kepenatan, harapannya agar suami terhibur. Namun, yang sebaliknya pula berlaku. Herdikan dan sindiran pula yang diterima.

Namun senyuman masih menyeri wajahnya yang nampak berkedut dimamah usia. Kesopanannya masih jelas terserlah. Suaminya bertambah berang. Lalu mangkuk berisi teh itu dihempas kuat hampir mengenai si isteri. Yang hebatnya, isterinya masih mampu tersenyum.

“ Sudah! Cukup dengan senyumanmu itu!” herdik suaminya.

“Kenapa kau selalu tersenyum? Setiap keadaan kau senyum. Waktu senang, waktu sukar. Sentiasa! Adakah aku ini terlalu jijik dan hina untuk kau perli dengan senyumanmu itu?"

"Sekarang aku nak kau ketawa! Ketawalah sepuasnya!” suara si suami bertambah tinggi, mengejutkan si isteri. Air mukanya mula berumah sayu. Lalu titisan panas air matanya mengalir ke pipi.

“Mengapa kau begitu payah untuk memahami perasaan orang lain? Aku pun ada perasaan. Bukan untuk dihina sebegini. Syuman ini adalah pesanan ayahku. Katanya wanita itu umpama matahari di dalam keluarga. Seorang wanita perlu sentiasa memenuhi rumahtangganya dengan senyuman. Andai seorang wanita itu tidak senyum, nescaya matahari pun tidak akan sanggup untuk keluar memberi cahaya kepada bumi..” Pedih dan dalam kata-katanya yang Berjaya membisukan suaminya serta-merta. Membuatkan suaminya tertunduk malu. Dia tersedar akan sesuatu. Sambil mengangkat muka, si isteri mula menguntumkan kembali senyumannya yang menawan.

Inilah babak yang paling menarik pada pandangan saya. Kata-kata yang mahal nilainya itu diungkapkan oleh seorang wanita yang bukan Islam. Dan ia diungkapkan pula dalam sebuah filem yang hebat juga bukan hasil tangan orang Islam.

Sebaik mendengarnya, satu kesedihan yang hebat menghempas jiwa saya. Masakan tidak, kita di Malaysia yang beragama Islam ini dilambakkan dengan cerita-cerita tahyul yang tidak mendidik jiwa dan pemikiran anak bangsa. Kita dihidangkan dengan filem-filem yang menjolok mata lagi mengghairahkan di sini. Kita melihat bagaimana kesopanan, akhlak, peribadi dan martabat wanita Islam dibogelkan dengan alasan seni dan keindahan.

Keindahan apa yang mereka mahu buktikan?? Jika nilai seorang wanita Islam itu disepak terajang lalu dibakul sampahkan ke tepi?

Mana perginya kehormatan mereka? Tidak malukah mereka kepada masyaakat, kepada keluarga, suami dan anak-anak mereka? Soalan yang paling utama, tidak malukah mereka pada Allah?

Sungguh awal-awal lagi kita dikalahkan oleh musuh kita. Saya ternanti-nanti bilalah Malaysia mahu menghasilkan filem sebegini. Tolak ketepi  kisah cinta murahan yang tidak ada sudahnya itu. Juga hantu jembalang yang tidak sudah-sudah menghantui diri kita.

Sisi wanita Islam

Benar, masyarakat Jepun penuh nilai ketimuran mengalahkan masyarakat kita yang Islam ini. Saya tidak nafikan sisi negatif yang ada pada mereka, namun janganlah yang negatif itu kita tiru dan sebut-sebutkan. Tidak salah mencontohi kebaikan sekalipun yang ingin dicontohi itu bukan dikalangan umat Islam. Selagi tidak melanggar batas-batas syariat yang ditentukan Allah SWT.

Teringat saya kata-kata Dr Yusuf Al-Qardhawi sewaktu kembaranya ke bumi eropah. Katanya “ aku pergi ke eropah dan aku melihat Islam di sana, kemudian aku kembali ke mesir lalu aku melihat Islam hanya pada nama sahaja.

Mungkin kata-kata ini sudah jelas menggambarkna ketandusan kita terhadap nilai-nilai sebenar Islam. Sayang seribu kali sayang.

Peribadi Ummul Mukminin

Jika berbicara soal wanita, tidak sah rasanya jika tidak menyebut peranan dan sumbangan yang telah ditunjukkan oleh Ummul Mukminin, Aisyah RA.

Ciri-ciri dan akhlak peribadi yang ada pada diri puteri Saidina Abu Bakar As-Siddiq yang juga isteri kepada Rasullullah SAW tentu tidak dapat ditandingi oleh sesiapa. Sudah tentu tidak dapat tidak, kita perlu menjadikan beliau sebagai contoh ikutan dalam membentuk peribadi muslimah sejati.

Perrhatikan akhlak dan tingkah lakunya. Lihat bagaimana solusinya berdepan dengan sesuatu masalah. Renungkan bagaimana dirinya mengadapi kesukaran hidup.

Itulah sepatutnya dan sebaiknya diamalkan. Bukan mengikut perangai para artis yang banyak  negatifnya dari positif. Bukan mencontohi watak heroin filem yang entah bagaimana peribadi sebenarnya.

Jadilah wanita yang menyerlahkan keagungan diri seorang wanita. Wanita yang baik itu nescaya membuat seisi alam menjadi baik. Insyaallah dengan izin dari-Nya.Seperti kata watak dalam filem yang saya ceritakan, andai wanita itu tidak senyum nescaya matahari pun segan untuk menampakkan sirnanya.

Moga beroleh manfaat.




Rabu, Ogos 24, 2011

Penghujung Yang Dinanti

(http://panduanislam.com)

Alhamdulillah, hari ini Allah masih kurniakan kita nyawa untuk kita terus menikmati bulan Ramadhan yang diberkati lagi dirahmati ini. Hari ini juga menandakan bahawa kita hanya ada baki beberapa hari sahaja lagi untuk menamatkan latihan intensif kita selama sebulan. Latihan yang entah bagaimana keputusannya. Namun, kita masih ada baki beberapa hari lagi untuk gandakan usaha dalam mendapat keputusan yang baik dan mungkin cemerlang jika menggunakan peluang terakhir ini sebaiknya.

Dalam hidup ini, biasanya manusia amat takut kepada perkataan 'penghujung'. Perkataan yang membawa erti akhir dan penamat.

Kita takut jika disebutkan bahawa hari ini adalah hari pengakhiran dalam hidup kita. Mendengar kalimah hujung nyawa itu pun pasti menggetarkan seluruh jasad dan jiwa. Kita juga tidak mahu berada dalam keadaan yang berisiko tinggi, seperti kata orang Melayu; bagai telur di hujung tanduk.

Hujung itu biasanya amat menggusarkan dan merisaukan.

Namun, pada bulan yang berkat ini, penghujung itu adalah yang paling dinanti-nanti. Benar, rasa sedih juga ada kerana tidak lama lagi Ramadhan akan melabuhkan tirainya. Namun sedih itu sedikit tersorok dek gembira menanti ganjaran yang Allah SWT janjikan.

Seperti mana firman Allah SWT dalam surah Al-Qadr :

1.Sesungguhnya kami telah turunkannya (al Qur’an) pada malam al qadr.

2.Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu?

3.Malam al qadr itu lebih baik daripada seribu bulan

4.Turun malaikat2 dan malaikat Jibril padanya(malam al qadr) dengan izin Tuhan mereka membawa segala urusan.

5.Selamat sejahteralah ia(malam al qadr) sehinggalah terbit fajar (Subuh).


Itu janji Tuhan yang mengurniakan Ramadhan pada umat Muhammad. Siapa yang tidak mahu mendapat kemuliaan lebih dari seribu bulan itu. Menanti penghujung terkandung anugerah besar itu menjadi satu penantian yang tiada hentinya.

Namun, untuk sekadar menanti tanpa berbuat apa itu bukanlah caranya.

Menanti dengan hanya menumpukan amalan di akhirnya juga bukan pilihan yang benar sifatnya.

Seharusnya penantian itu telah lama bermula sewaktu kita melangkah pada awal Ramadhan lagi. Amalan itu perlu konsisten dan berterusan. Yang dinanti dan ditunggu itu penuh kemuliaan dan mahal harganya, sudah tentu jalan meraihnya juga sukar dan mahal harganya.

Jika telah terlalai di pertengahannya, moga ada ruang untuk kita menebus kelalaian itu. Allah tidak sesekali menafikan peluang hambanya meraih Cinta Agung milik-Nya.

Sama-sama kita mengejar ganjaran yang telah dikhabarkan itu. Moga sama-sama dapat meraihnya.

Sambutlah penghujung yang dinanti ini dengan penuh rasa kehambaan!

Selasa, Ogos 23, 2011

Zakat Fitrah : Kewajipan Dan Kelebihannya.

(ppimi.org)

Kini kita telah berada di penghujung bulan yang paling mulia dan paling istimewa di antara bulan-bulan yang lain. Bulan Ramadhan yang terkandung di dalamnya berbagai keberkatan hampir sahaja melabuhkan tirainya.

Sudahkah kita muhasabah diri kita pada penghujung Ramadhan ini??

Bagaimana keadaan iman dan hati kita sekarang?

Moga-moga jawapan yang bakal kita berikan tidak mengecewakan diri kita sendiri. Diharapkan Ramadhan kali ini sedikit sebanyak dapat mendidik diri, hati dan juga iman kita, Insyaallah.

Sedar atau tidak, bulan Ramadhan benar-benar menyediakan satu medan untuk kita memperelok diri dan iman, menambah-baik apa-apa yang perlu sebagai seorang hamba Allah di dunia ini dan menginsafi akan kekurangan saudara-saudara kita yang kurang bernasib baik, yang miskin dan fakir.

Selain ibadah puasa yang disyariatkan di bulan ini, terdapat satu ibadah lagi yang tidak boleh kita ambil ringan iaitu zakat fitrah.

Kewajipan menunaikan zakat fitrah sudah pasti mempunyai hikmah dan kelebihan tersendiri kepada umat Islam khususnya.

Zakat Fitrah adalah kewajipan yang dikenakan ke atas setiap orang yang dikira masih mempunyai makanan yang mencukupi bagi dirinya dan juga tanggungannya di Aidilfitri. Kewajipan zakat fitrah terhadap setiap muslim dinyatakan oleh saidina Umar RA berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :

" Sesungguhnya Rasullullah SAW mewajibkan zakat fitrah daripada muslim, baik hamba atau merdeka, lelaki atau perempuan, iaitu sebanyak segantang kurma atau gandum " ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ).


Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Said Al-Khudry bermaksud :

" Ketika Rasullullah SAW berada bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka atau hamba sebanyak segantang makanan samada berupa keju, kurma, gandum atau anggur kering. "


Kita dapat melihat kelebihan atau faedah zakat fitrah ke atas setiap individu muslim dari 4 sudut iaitu sudut rohani, ibadah masyarakat dan ekonomi.

Kelebihan zakat fitrah dari sudut rohani :

- Sesungguhnya zakat fitrah mampu mendidik hati dan menjauhkan orang yang menunaikannya daripada bersifat dengan sifat-sifat keji seperti kedekut dan mementingkan diri sendiri.

- Sabda Rasullullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abas bermaksud : " Diwajibkan oleh Rasullullah SAW bahawa zakat fitrah membersihkan bagi orang yang berpuasa dan memberi makan bagi orang miskin. "


Kelebihan zakat fitrah dari sudut ibadah :

- Zakat fitrah boleh menampung ibadah puasa yang mungkin berkurangan disebabkan kelakuan kita ketika berpuasa dan juga boleh menyucikan orang-orang yang berpuasa dari sifat lagha dan bercakap kotor atau keji di bulan Ramadhan.

Kelebihan zakat fitrah dari sudut masyarakat :

- Kefarduan zakat fitrah akan memberi rasa kebersamaan orang yang berpuasa terhadap saudara-saudaranya yang fakir lagi miskin. Rasa kebersamaan ini lahir apabila golongan yang fakir lagi miskin ini mampu menikmati kemeriahan hari raya sama seperti saudara-saudara mereka yang lebih berkemampuan manakala golongan pembayar zakat dapat merasa ketenangan dengan kegembiraan yang terpancar dari raut wajah golongan yang fakir ini.

- Selain itu, kefarduan ini sudah pasti akan menyucikan masyarakat daripada sifat-sifat tercela seperti hasad dengki, iri hati, dendam-mendendami, tamak, kedekut, ujub, riak dan takabbur. Akhirnya akan lahirlah keharmonian, kesejahteraan, keamanan dan ketenangan di dalam masyarakat seluruhnya.

Kelebihan zakat fitrah dari sudut ekonomi :

- Apa lagi yang dapat dikatakan tentang keadaan ekonomi apabila permintaan dalam pasaran meningkat, sudah tentu aktiviti ekonomi akan bertambah rancak dan ini sudah tentu mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang memberangsangkan terhadap negara khususnya.
Disamping dapat membantu golongan fakir miskin memenuhi keperluan di Aidilfitri, para peniaga juga dapat kelebihan daripada kefarduan zakat fitrah ini.

- Ekonomi negara Islam sudah pasti akan berada di tahap yang baik dan dapat meneruskan momentum kenaikannya sepanjang bulan Ramadhan.

Tidak dapat dinafikan lagi bahawa zakat fitrah adalah antara unit terpenting dalam ekonomi Islam yang mampu memberi banyak kelebihan kepada masyarakat dan negara khususnya dari sudut ekonomi selain merupakan terapi rohani dan jasmani kepada masyarakat sekaliannya.

Anda sudah tunaikannya??

" Barang siapa menunaikan zakat fitrah sebelum solat hari raya maka zakat itu dterima dan barangsiapa yang membayar selepas solat, zakat itu sebagai sedekah biasa. " ( Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah) .

Tunaikan sebelum esok! JOM..JOM..bayar zakat fitrah!


Rujukan :

1- Durus Iqtisodiah min Ramadhan, Dr Asyraf Muhammad Dawwabah
2- Fiqh Al-Manhaji
3- Berita Harian

Selasa, Februari 22, 2011

Mengarang Sebuah Cita- Cita





Tidak selalunya perkara yang kita harapkan itu kita peroleh. Kita mengharap untuk jadi begitu begini namun hasilnya tidak seperti yang dirancang juga diidam-idamkan.

Namun, perkara yang berlaku secara tidak dirancang itu sebanarnya mendatangkan lebih kebaikan kepada diri kita. Inilah yang dinamakan perancangan Allah. Kita sebagai hamba tekun merancang tetapi Allah SWT juga merancang hidup kita sebagai hamba kepadaNYa. Lalu rancangan siapakah yang lebih aula ( utama ) untuk berlaku??

Saya percaya setiap orang mempunyai cita-cita sendiri. Sejak dari kecil kita membina keinginan tersebut. Jika ditanya kepada anak-anak kecil, sudah tentu pelbagai jawapan kita akan dengari. Ada yang mahu jadi doktor, tentera, polis bahkan superman dan ultraman juga menjadi pilihan!

Seiring dengan peredaran usia, cita-cita kita juga turut berubah sama. Kalau dahulu ingin menjadi Superman, kini mahu menjadi juruterbang pula misalnya. Kalau dahulu mahu jadi doktor, kini hanya mahu menjadi jururawat sahaja.

Segalanya ini banyak dipengaruhi oleh persekitaran seseorang itu.

Kali iini, setelah lam tidak menulis, tergerak hati mahu berkongsi kisah saya mengarang cita-cita.

Saya sama seperti anda semua, mempunyai cita-cita yang hebat sejak dari kecil.

Waktu itu, saya suka bermain permainan terutamanya mainan seperti jet pejuang atau kapal terbang. Jika tidak ada, saya akan melipat kertas lalu menerbangkan ia menerusi tingkap rumah.

Ketika itu rumah saya seperti rumah kampung biasa. Rumah kayu yang bertiang tinggi. Tingkapnya terbuka luas, mudah bagi jet-jet kertas saya melaluinya.

Minat itu telah menimbulkan keinginan dalam hati kecil saya mahu memandu jet pejuang. Saya mahu menjadi juruterbang yang hebat!

Selepas daripada itu, setiap kali ditanya tentang cita-cita, dengan bangganya saya akan menjawab :

" Cita-cita saya nak jadi pilot!"

Impian ini makin menebal dan bertambah kuat dengan kehadiran bapa saudara saya yang baru. Maksudnya suami kepada ibu saudara saya. Adik abah yang ke 7. Dia seorang guru, suaminya seorang anggota TUDM. Pegawai yang berpangkat juga la dalam pasukannya ketika itu.

Majlis perkawinan mereka menghadirkan 3 buah helikopter jenis Nuri di tanah rancangan, rumah almarhum atuk dan nenek saya berada.

Ketika mahu menyambut rakan-rakan sepasukannya, dia telah mengajak saya dan sepupu yang lain menghampiri helikopter tersebut. Angin tujahan kipas helikopter yang baru mendarat seolah-olah turut mengangkat saya lebih tinggi untuk menggapai cita-cita yang diimpi. Saya jadi amat bersemangat ketika itu!

Kesempatan yang ada, tidak saya lepaskan. Ketika sepupu-sepupu yang lain sibuk bermain, saya leka duduk berhampiran sahabat-sahabat bapa saudara saya itu. Mereka semua lengkap beruniform dengan logo TUDM tertera di dada. Segak.

Perbualan dengan mereka kemudiannya menyuntik semangat yang memang sedang hebat terbakar.

Selepas daripada itu, saya nekad mahu menjadi seperti mereka.

Namun....

Masa merubah segalanya.

Ketika di bangku sekolah menengah, saya menjadi kurang bersemangat untuk meneruskan cita-cita yang itu. Terasa seolah peluangnya pergi terlalu jauh dan payah untuk saya mengejarnya.

Masakan tidak, masuk Maktab Tentera Udara memerlukan fizikal tertentu yang digariskan dalam syarat-syarat kemasukannya dan juga perlu tahan tekanan yang tinggi. Saya pula tidak mempunyai segala syarat tersebut, ditambah lagi dengan penyakit buah pinggang yang dihidapi. Saya terpaksa lupakan cita-cita saya itu.

Penghujung tingkatan satu, saya merangka cita-cita baru. Saya tidak mahu terus kecewa dan tidak bersemangat.

Kini, saya mahu menjadi seorang jurutera aeroangkasa pula.

Jurutera aeroangkasa adalah merupakan seseorang jurutera yang terlibat didalam mana-mana peringkat penyelidikan dan pembangunan industri aeronautik ( penerbangan dalam lingkungan atmosfera bumi ) dan juga astronautik ( penerbangan diluar lingkungan atmosfera bumi ).

Bagi saya, tidak dapat memandu kapal terbang atau jet pejuang pun tidak mengapalah asalkan masih terlibat dengan bidang penerbangan. Dan bidang ini lagi hebat. Kita yang merangka dan membina pesawat atau roket yang dipandu.

Saya merasakan ini pilihan terbaik. Lalu saya terus dengan matlamat mencapai impian ini.

Bermula dari situ, saya mula membaca buku-buku berkaitan dengan sains angkasa dan penerbangan, menonton dokumentari dan sebagainya. Saya jadi rapat dengan mata pelajaran Sains. Saya tahu, jika mahu terlibat dalam bidang ini tidak boleh tidak saya perlu kuasai ilmu sains dan matematik.

Saya berusaha bersungguh-sungguh dalam pelajaran. Saya sudah merangka pelan 5 tahun kehidupan saya. Ketika itu saya sudah mula membaca buku-buku dan tulisan-tulisan motivasi.

Antara tokoh motivasi yang saya selalu jadikan rujukan buku mereka adalah Dr. HM Tuah Iskandar dan Dato' Dr Fadzilah Kamsah.

Melalui tulisan dan ceramah mereka yang saya tonton, saya mengetahui serba ringkas kaedah yang betul untuk merealisasikan apa yang kita impikan. Dalam pelan 5 tahun yang saya rangka, saya telah menulis dan mencatat perkara-perkara yang saya perlu lakukan untuk menjadi jurutera aeroangkasa.

Antaranya adalah permohonan masuk ke Sekolah Teknik dan mengambil bidang Kejuruteraan Mekanikal. Kemudian selepas SPM saya akan memohon untuk belajar di UPM dalam bidang kejuruteraan aeroangkasa. Jika berjaya, saya ingin ke Rusia untuk mendalami ilmu kejuruteraan di sana.

Selepas keputusan PMR keluar, saya menerima surat yang menyatakan permohonan saya untuk masuk ke sekolah teknik dalam bidang yang saya mohon diterima.

Namun, lahir pula masalah baru.

Saya menjadi berbelah bahagi. Sayang mahu meninggalkan sekolah yang telah banyak mengajar dan mendidik saya selama 3 tahun lalu. Sekolah yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Inilah sekolah yang mengenalkan saya bahawa saya ini hidup sebagai hamba kepada Tuhan.

Pendapat rakan-rakan ditanya.

" Kalau kau dah suka, teruskan saja," itu kata mereka.

" Rugilah kau berhenti sekolah ni, elok kau ambil SMA ( Sijil Menengah Agama- Tingkatan 4 ) dulu."

Pendapat guru-guru pula diminta.

" Sayang kalau awak berhenti..," kata seorang guru.

" Teruskan belajar agama, lebih bagus, lebih elok," kata guru yang lagi satu.

Ketika pendapat Mak dan Abah diharap.

" Ikutlah pada minat kamu, mak tak kisah janji benda tu baik bagi kamu. Tapi rugilah berhenti dari sekolah agama," nasihat Mak.

" Abah bagi awak buat keputusan. Bagi Abah, sekolah agama lebih baik," Abah pula memberi pandangan.

Lalu saya terperangkap. Terlalu ramai yang kurang menyokong. Tapi hati dan keinginan membuak-buak! Yang mana harus saya pilih??

Antara mahu dan buntu.

Antara kehendak dan harapan.

Saya istikharah. Mohon petunjuk.

Lalu saya memilih untuk kekal disitu. Mengharap ada hikmah yang Allah mahu kurniakan. Namun sebagai hamba yang lemah dalam usia yang amat muda itu saya amat kecewa dengan keputusan sendiri.

Kekecewaan yang menutup pintu saya mengecap cita-cita lampau yang dikarang. Pasti saya tidak akan gapai lagi.

Sedih mengenangkannya.

Saya terpaksa membuang segala kertas-kertas catatan pelan 5 tahun saya. Saya jauhkan diri dengan buku-buku sains angkasa dan yang berkaitan dengannya.

Saya terpaksa hapuskan semua sisa-sisa, saki-baki cita-cita dalam bidang yang saya suka.

Yang tinggal kini hanya harapan.

Mengharap Allah kurniakan sesuatu yang baru. Mengharap Allah membuka jalan yang lain pula untuk saya karang cita dan impian.

Betapa saya kecewa, sepanjang tingkatan 4, saya tidak suka kepada subjek sains hingga menyebabkan saya tidak lulus dengan markah terendah berturut-turut. Warna merah seolah menjadi warna rasmi subjek tersebut.

Begitu juga dengan Matematik Tambahan. Saya benci semua subjek yang ada kaitan dengan cita-cita lampau saya.

Saya biarkan masa berlalu...

Sunyi dan sepi..

Namun, Allah SWT itu maha adil. Dalam kekecewaan itu, Allah ubat hati saya dengan beberapa pencapaian yang tidak pernah langsung saya bayangkan.

Sepanjang tingkatan 4, saya banyak menyertai pertandingan syarahan, bahas, tafsir dan sebagainya. Dengan kuasa Allah, saya menang semua pertandingan yang saya masuk. Kalau tidak di tempat pertama, tempat kedua dan ketiga. Dari peringkat sekolah, zon, daerah hinggalah mewakili negeri. Alhamdulillah.

Ketika itu juga saya terlibat aktif dengan persatuan dan badan kepimpinan.

Saya mula dikenali di sekolah. Terasa dihargai.

Ketika itulah saya merasakan hikmah kekalnya saya di sekolah ini iaitu SMA Al-Wosto, Temerloh.

Pertengahan tingkatan 4, tahun 2004, saya fokus kembali kepada pelajaran. Pada tahun tersebut kami di sekolah agama akan menghadapi peperiksaan besar iaitu SMA atau Sijil Menengah Agama.

Dalam sibuk menghafal dan menekuni pelajaran untuk persediaan menghadapi peperiksaan, saya mula merangka cita-cita baru. Bagi saya seorang manusia itu perlu ada matlamat, perlu ada cita-cita. Dalam erti kata lainnya, perlu ada sesuatu untuk dikejar dan digapai diakhirnya nanti.

Waktu itu, saya jadi sayang pada subjek agama. Bahasa Arab bagi saya mendatangkan rasa seronok dan tenteram, begitu juga dengan beberapa subjek. Di sudut lain pula, saya jatuh cinta dengan subjek perakaunan.

Lalu terhasillah satu cita-cita baru iaitu ingin menjadi akauntan tetapi akauntan yang Islamik dan mahir berbahasa Arab.

Maka proses yang sama yang saya lakukan ketika di tingkatan 1,2 dan 3 saya praktikkan semula. Saya menyusun pelan yang baru dengan puncaknya tertulis Akauntan Islamik.

Selesai SMA, saya fokus pula kepada SPM. Walau dalam sibuk menggalas jawatan Ketua Pelajar dan mengetuai beberapa persatuan saya cuba memberi tumpuan dalam setiap subjek yang dipelajari.

Matlamat saya jelas, mahu jadi profesional di bidang akauntan dalam masa yang sama pakar di bidang agama dan Bahasa Arab.

Saya mula cuba untuk membina karakter impian saya.

Buku dan majalah bertulisan berat kadang-kadang menjadi jamuan minda saya.

Selepas tamat menduduki SPM, saya memilih untuk meneruskan pengajian di sebuah institusi pendidikan agama di Pekan Pahang yang bernama Kulliah Al-Lughah Waddin Sultan Abu Bakar untuk mengambil peperiksaan STAM ( Sijil Tinggi Agama Malaysia ).

Matlamat saya selepas STAM - yang mana di sini saya dapat memperkukuh bidang agama - saya akan menyambung pelajaran di UUM dalam bidang perakaunan. Maka dengan izin Allah, saya dapat menjadi seperti yang diimpikan.

Namun, dalam semua perkara yang kita rancangkan, ada Allah sebagai sebaik-baik perancang.

Ketika di Kulliah, saya menyertai sebuah program anjuran Kolej IKIP, Kuantan. Program tersebut menerangkan tentang peluang untuk melanjutkan pelajaran ke Universiti Yarmouk di Jordan dengan dibiayai Yayasan Pahang dalam bidang yang amat menarik minat saya ketika itu. Bidang tersebut adalah Ijazah Syariah pengkhususan dalam Ekonomi & Perbankan Islam.

Selepas daripada itu saya pun muhasabah semula semua rancangan dan pelan yang telah saya buat.

Bila disemak semula, program yang Kolej IKIP bersama Yayasan Pahang tawarkan lebih menghampiri impian dan matlamat saya. Belajar Syariah dalam masa yang sama fokus dalam bidang Ekonomi dan Perbankan. Saya amat berminat.

Selang beberapa bulan, saya menghadiri temuduga bersama pihak Yayasan Pahang dan alhamdulillah, saya terpilih untuk program tersebut.

Bermula dari hari pertama belajar hinggalah hari terakhir saya di Universiti Yarmouk, saya benar-benar merasakan akan tepatnya pilihan saya ini. Amat sesuai dengan minat dan jiwa saya.

Ketika ini, cita-cita saya berubah sekali lagi.

Dengan ilmu dalam bidang Perbankan Islam dan melihat keadaan semasa, saya merasakan perlu untuk bangun menjadi seseorang yang dapat menyumbang dalam bidang ini. Saya ingin kuasi bidang yang saya tekuni.

Lalu keluarlah pula idea untuk persiapkan diri menjadi Penasihat Syariah. Atau jika tidak pun menjadi eksekutif Syariah di syarikat perbankan mahupun kewangan.

Ketika di tahun akhir, saya cukup beremangat mencari ruang untuk menempatkan diri dalam industri kewangan Islam negara yang pesat membangun. Rancangan saya, selepas pulang sahaja ke Malaysia, saya mahu berkhidmat di bank sebagai Eksekutif Syariah. Itu pelan saya sebelum saya memenuhi dada dengan ilmu bagi menapak ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun, hakikat segalanya bukan semudah yang disangka.

Pulang sahaja ke Malaysia, berbagai cabaran yang ditempuh. Temuduga juga sudah bermacam yang dihadiri akan tetapi pekerjaan yang diimpi tidak juga mahu menjadi realiti.

Cuma saya tidak berdiam diri begitu sahaja. Saya tetap mahu terjun ke dalam bidang ini. Lalu dengan upaya yang ada, dengan semangat yang membara saya mengambil lesen menjadi konsultan unit amanah di bawah pengurus dana Public Mutual, lesen takaful di bawah Etiqa dan lesen megurus pusaka dengan syarikat Wasiyyah Shoppe Sdn Bhd.

Selepas itu saya bekerja sebagai guru di sebuah sekolah agama swasta di Temerloh. Dan sekarang, Allah pilih saya selaku pensyarah di Kolej IKIP.

Walaupun menjadi pendidik bukan pilihan utama saya sejak dari kecil, namun ketentuan Allah itu mengundang hikmah yang besar untuk saya redhai. Kini saya cukup rasa berbesar hati. Juga berbangga sebenarnya dipilih Allah SWT menjadi seorang guru. Ada nikmat dan kepuasan besar terselindung di sebaliknya.

Dalam hati saya, saya masih cintakan bidang ini. Saya kini merancang untuk pergi lebih jauh dalam bidang yang saya pelajari dan kuasai, Insyaallah.

Satu hari, saya mahu menjadi ' seseorang ' yang mampu memberi sumbangan besar dalam bidang kewangan Islam sama seperti ikon besar dalam bidang ini umpamanya Dr Daud Bakar, Ustaz Zaharuddin dan ramai lagi.

Doakan saya mencapai cita-cita saya yang ini!

Setelah 23 tahun melukis angan dan cita-cita, saya belajar sesuatu.

Bahawa tidak semua yang kita rancang, yang kita ingin akan terlaksana. Ianya selalu sahaja datang dalam keadaan yang tidak kita sangka, tidak kita duga. Namun hasilnya, MasyaAllah amat membahagiakan jiwa.

Percayalah, jika sesuatu yang kita cita-citakan itu tidak berhasil dan masa depan kita tidak seperti yang kita harapkan sebenarnya terselindung berjuta hikmah yang Allah kurniakan kepada kita disebaliknya.

Maka, kita perlu redha dan tidak berburuk sangka dengan apa yang Allah tentukan pada kita.

Sepanjang perjalanan hidup yang setahun jagung ini, saya juga cukup menghormati didikan Abah kepada saya.

Antara didikannya adalah bagaimana untuk kita membuat keputusan dalam hidup. Walaupun saya terkadang berasa tertekan dan marah dengan cara tersebut nyata ia amat berguna. Didikannya itulah yang telah membawa saya terbang jauh merantau ke bumi orang.

Terima kasih tidak terhingga Abah & Mak. Moga Allah merahmati kalian berdua!

Perkara ini amat memberi kesan kepada saya hinggalah sekarang. Dan saya amat-amat mengharap suatu hari, saya akan perturunkan cara ini kepada anak-anak saya jika sesuai dan diizinkan Allah SWT.

Berkenaan cita-cita yang berubah, itu bukan tanda kita orang yang tidak tetap pendirian. Tetapi ia menggambarkan peningkatan ilmu kita dari tahap anak-anak hinggalah menjadi insan dewasa.

Moga Allah permudahkan urusan kita semua.

Ameen ya Rabb.





Selasa, April 20, 2010

Cara Menggunakan Hasil Riba ( Interest/Faedah Bank )

Artikel-artikel sebelum ini telah banyak saya sentuh isu berkenaan dengan riba. Saya telah nyatakan serba sedikit takrif, dalil pengharaman dan perbezaannya dengan jual beli. Saya juga ada menyebut tentang aplikasi riba di bank dalam entry saya bertajuk " Riba : Masih Ramai Tidak Beri Perhatian."

Kali ini saya hanya mahu mencatat ringkas berkenaan dengan cara menggunakan hasil riba yang kita terima contohnya interest/ faedah dari bank-bank konvensional yang kita langgani.

Kita telah tahu amaran-amaran keras dari Al-Quran dan juga hadis-hadis Nabi SAW berkenaan pengharamannya dan dosa yang akan menimpa pemakan riba. Tapi kita belum tahu apa yang perlu kita lakukan terhadap harta-harta atau hasil riba yang kita perolehi.

Adakah kita perlu biarkan sahaja di dalam bank??

Atau kita keluarkan dan buang duit hasil riba itu ke dalam sungai??

Atau kita bakar sahaja??

Hendak diguna sudah tentu haram dan berdosa. Jadi bagaimana??




Insyaallah di dalam post ini saya akan terangkan dan buka jalan penyelesaian kepada anda sekalian.

Untuk mereka yang baru sedar akan keterlibatan mereka dengan dosa riba dan takut lagi gerun akan amaran-amaran keras Allah SWT, bertindaklah segera! Mungkin sudah tiba masanya anda bertukar kepada produk kewangan atau perbankan yang diyakini menjalankan sistem Islam.

Bagi yang sengaja menggunakan produk kewangan konvensional untuk mendapat pulangan dalam bentuk interest dan faedah pula, segeralah bertaubat. Tinggalkan rezeki yang tidak halal lagi besar dosanya itu.

Sumber Haram.

Dalam Islam, harta haram boleh diklasifikasikan kepada dua keadaan iaitu :

Haram kerana zatnya : Contoh bagi keadaan ini adalah anjing, babi, bangkai dan arak serta yang bersangkutan dengannya seperti air yang memabukkan lainnya. Barang-barang ini dijatuhkan hukum haram dalam apa-apa pun keadaan. Hatta memperolehinya dengan cara yang halal.

Haram kerana cara memperolehinya : Harta ini diharamkan bukan kerana zatnya tetapi kerana sifatnya. Contohnya seperti harta curi, hasil penipuan, riba dan sebagainya. Walaupun asal keadaan harta itu adalah halal tetapi cara kita memperolehinya menjatuhkan ia kepada hukum haram. Ahli Fiqh meletakkan satu kaedah yang mudah iaitu :

تَغَيُّرُ أَسْبَابِ الِمْلِك يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ تَغَيُّرِ الأَعْيَان

" Berubahnya cara memperoleh sesuatu barang itu dihukumkan kepada perubahan kepada barnag tersebut. "


Maksudnya, jika salah cara walaupun asalnya adalah halal maka barang itu akan bertukar haram.

Maka tidak syak lagi bahawa hasil riba adalah dari harta haram kategori kedua iaitu haram disebabkan cara memperolehinya. Asal wang itu adalah halal, maka perlulah kita menyalurkan kepada masyarakat umum dengan cara yang halal iaitu dengan sedekah dan sebagainya.

Ulama menyarankan kita menggunakan hasil riba untuk diinfaqkan kepada masyarakat awam bagi kepentingan umum. Contohnya adalah seperti pembinaan jalan raya, tandas awam, jambatan dan sebagainya.

Perkara-perkara yang mulia tidak boleh kita lakukan dengan menggunakan hasil riba. Contohnya seperti pembinaan masjid, membeli al-Quran dan membayar zakat.

Allah SWT menyebut di dalam surah al-Baqarah ayat 267 maksudnya :

"Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebahagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mahu mengambilnya melainkan dengan enggan terhadapnya. Dan ketahuilah Allah Maha Kaya , Maha Terpuji."

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda :

((أن الله طيب لا يقبل ألا طيبا ))

" Allah itu sukakan kebaikan dan Dia tidak menerima melainkan kebaikan "

Jadi, daripada dua dalil ini, maka ulama tidak membenarkan kita menginfaqkan atau menyedekahkan hasil riba kepada pembinaan rumah Allah dan perkara-perkara yang menjurus langsung kepada pengibadatan yang khusus. Ini bagi menghormati dan membesarkan Tuhan Rabbul Jalil.

Berikut adalah beberapa kaedah membelanjakan hasil riba ;

1. Membuat jambatan.
2. Membuat jalan raya.
3. Tandas awam.
4. Selipar untuk digunakan di masjid atau kawasan-kawasan lain.
5. Sabun, penyapu dan segala peralatan yang sepertinya untuk kegunaan awam
6. Disalurkan kepada badan kebajikan dan NGO-NGO yang melakukan kerja-kerja kebajikan.


Segera buat keputusan untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Sama-sama menjauhi dosa riba!


~ The Idealist : Leading the development of Ummah! ~